Kamis, 16 November 2017

SEKALI LAGI: PATAH HATI!


Sejak hubungan kasihnya kandas, Tungga merasa dunia tak lagi ramah padanya. Dunia seperti sedang mengejeknya. Lagu lawas yang disukai bunda seperti lagu yang disetel otomatis, terdengar terus di kepalanya mulai dari yang bernada mellow
....
Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don’t they know it’s the end of the world?
It ended when i lost your love[1]

yang bernada rock manis
....
Love of my life, you’ve hurt me,
You’ve broken my heart and now you leave me.
Love of my life can’t you see,
Bring it back, bring it back,
Don’t take me away from me because you don’t know what it means to me.[2]


Selama seminggu ia mengurung diri di kamarnya. Menangis. Menyesali kenapa hubungan yang dibinanya tiga tahun harus berakhir. Hari ini, Tungga merasa cukup sudah ia menjadi manusia bodoh. Ia harus kembali merasionalisasi pikiran. Ia baik-baik saja, bahkan bisa lebih baik daripada saat ia bersama kekasihnya dulu. Pilihannya adalah menyepi ke vila keluarganya di kota C. Kota yang hanya selemparan batu dari Jakarta tapi masih saja membuat bunda tak tenang melepas putri tunggalnya walau akhirnya mengizinkan juga demi melihat wajah Tungga kembali berseri.

Mobil hitam berplat 2908 MTD itu berhenti di depan sebuah rumah besar berpagar kayu. Tungga segera mematikan mesin, mencabut kunci dari rumahnya, membuka pintu, lalu turun dari mobilnya. Ia tersenyum. Bersyukur karena perjalanannya lancar jaya berbekal GPS[3] di dasboard mobilnya. Sudah empat tahun ia tak ke mari. Sebuah rumah peristirahatan keluarga yang saat ini sepi tanpa penghuni. Kalau kata ayah, “Ini rumah investasi.” Padahal ayah tahu, nilai investasi dalam bentuk rumah pasti menyusut. “Kalau begitu, kita minta Mang Entis untuk menjadi kuncen rumah kita. Setiap hari membersihkan rumah dan merapikan buku-buku koleksi ayah. Kita gaji dia setiap bulan. Begitu ya?” jawab ayah kala Tungga mengatakan rugi. Ah, ayah selalu punya cara. Membantu Mang Entis, tetangga sebelah rumah mereka di kota C memang hanya petani biasa belum punya sawah sendiri. Dengan bekerja di rumahnya, ia jadi punya penghasilan tetap setidaknya punya pendapatan selama musim menganggur tidak ke sawah. Tungga lagi-lagi tersenyum mengenang percakapan dengan ayah dulu. Wah, sudah dua kali ia tersenyum. Untuk ketiga kali Tungga tersenyum dalam hitungan menit. “Awal yang baik. Aku bisa sering-sering tersenyum di sini.” Tanpa disadarinya, seorang lelaki berusia lebih muda daripada ayahnya telah berdiri santun di depan Tungga.
“Neng Tungga,” sapanya pelan tak ingin mengejutkan Tungga.
“Eh, iya Mang Entis ?” tanya Tungga memastikan.
“Iya, Neng. Alhamdulillah. Neng Tungga sampai juga di sini dengan selamat. “
“Iya, Mang Entis. Lancar perjalanannya.”
“Mari, Neng. Saya antar. Istri saya sudah merapikan rumah dan menyiapkan sedikit singkong rebus. Singkong baru nyabut tadi,” ajak Mang Entis.
Mereka masuk ke rumah bermodel sederhana itu setelah Mang Entis berjanji akan memarkirkan mobilnya di pelataran rumah. Bi Tini menyambutnya di dalam rumah. Mereka berpelukan setelah lama tak bertemu. Setelah mandi, Tungga bercengkrama dengan Mang Entis dan Bi Tini. Bercerita panjang kali lebar diselingi gelak tawa bila menyimak cerita konyol dari Mang Entis. Mang Entis paling juara kalau ngabodor.[4] Sampai akhirnya mereka pamit pulang agar Tungga bisa beristirahat. Tungga menuju kamarnya lalu merebahkan diri di atas kasur empuk itu. Hawa puncak yang dingin membuat matanya berat. Memeluk guling segera saja ia lelap. Tanpa mimpi. Sampai esok hari.

Bangun pagi dengan ringan hati. Ah, tak salah melarikan diri ke sini. Setelah sarapan dan secangkir kopi, Tungga menuju halaman. Di sana sepeda motor telah manis menunggunya. Tungga menungganginya. Hari ini bersama si manis roda dua itu Tungga jalan-jalan menyusuri kampung. Tungga menemukan titik – titik berkumpulnya orang-orang di kampung dari semua umur: anak-anak, remaja, sampai orang tua baik lelaki maaupun perempuan. Tungga tersenyum cerah secerah matahari pagi. Kembali pulang ke rumah. Penuh semangat ia mengambil setumpuk buku dari perpustakaan pribadi ayahnya. Kebetulan Mang Entis datang membawa pesanannya. Sebuah kantong besar yang bisa disampirkan ke jok motor, tempat menaruh buku. Tungga dibantu Mang Entis menyusun buku-buku dalam kantong yang sudah disampirkan ke jok motor. Tungga menjajal mengendarai motor yang bermuatan itu. Mencoba keseimbangan motor saat motor itu dilajukan. Berhasil berjalan lancar tanpa harus goyang kanan goyang kiri. Tungga kian sumringah. Dia membalikkan badan, menghadap Mang Entis dan mengacungkan jempolnya. Mang Entis tersenyum senang.
“Neng Tungga baik-baik saja, Nyonya. Senyumnya sudah mengembang menjadi tawa. Seperti sedia kala,” lapor Mang Entis kepada bunda melalui telepon selulernya.
“Terima kasih, Mang Entis. Saya titip Tungga ya!” jawab bunda sambil berkaca menahan bahagia.
“Iya, Nyonya. Saya berusaha menjaga Neng Tungga di sini.” jawab Mang Entis mengakhiri hubungan jarak jauhnya.

“Selamat pagi, matahari,” gumam Tungga setelah membuka mata dan berucap syukur. Waktu pagi pun berlalu diisi dengan ritual seperti hari-hari kemarin. Tungga memulai misinya. Dia nyalakan mesin si cantik roda duanya, menungganginya, mengajaknya jalan menyusuri rute yang dibuatnya kemarin. Di satu tempat yang agak lapang, Tungga berhenti. Diparkirnya motor. Diambilnya lipatan plastik tebal sejenis terpal kemudian digelarnya. Dikeluarkan buku-buku dari kantong untuk disusun di atas lembaran tersebut. Tungga lalu duduk di sana sambil memegang sebuah buku. Beberapa anak yang sedang bermain di lapangan sana sepertinya tertarik. Tungga menurunkan bukunya seraya tersenyum ramah. Anak-anak itu mendekat lalu berjongkok. Membaca-baca judul buku yang tergelar di depan mereka. “Sok atuh, boleh baca bukunya,” ujar Tungga. Mereka menatap Tungga untuk memastikan dan Tungga mengangguk sebagai jawabannya. Mereka saling melihat. Tak lama tangan-tangan mereka mengambil buku itu. Mulai membaca. Hampir dua jam Tungga duduk di sana. Karena merasa sudah tak ada peminat, Tungga mengemasi barang-barangnya. Tungga kembali jalan-jalan. Perhentian kedua adalah tempat kumpulnya para emak-emak. “Permisi, ibu-ibu,” sapanya, “silakan barangkali ada yang ingin membaca buku.” Tungga berhenti.
“Eh, si neng cantik”
“Bukunya gratis atau beli, Neng?”
“Ada buku artis Syahrini gak, Neng?”
“Buku resep masakan ada, Neng?”
“Ah, saya mah membaca saja sulit, Neng.”
Mereka bergerak menghampiri Tungga dan bukunya. Memilih dan membaca buku sesuai selera. Hampir dua jam sudah di sana, Tungga berkemas. Menuju tempat terakhir hari ini. Dekat sekolah menengah. Kali ini laris manis tanpa tunggu berlama-lama. Begitu buka lapak, anak-anak berseragam putih biru itu segera mengerumuni Tungga. Berebut memilih buku begitu Tungga mempersilakan sambil mengatakan gratis. Dari banyaknya anak yang membaca buku, ada yang menarik perhatian Tungga. Anak perempuan berkulit langsat dengan rambut ikal dan bermata cerdas. Anak itu memilih buku karya pengarang yang pernah diasingkan ke Pulau Buru. Sebuah buku yang amat jarang disentuh oleh anak seusianya kalau tak ingin dikatakan tidak pernah. Buku yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja” rupanya menarik baginya. Begitu juga pada  beberapa hari berikutnya.

Hari demi hari berlalu, Tungga makin asyik dengan kegiatan perpustakaan kelilingnya. Secara berkala buku-buku koleksi sang ayah yang selama ini tersimpan di perpustakaan pribadi pun dibaca juga oleh orang lain. Tungga juga makin akrab dengan penduduk di kampung itu. Termasuk dengan anak perempuan itu yang ternyata bernama Kartini.
“Kamu suka sekali membaca buku tentang Kartini. Karena itu namamu?” Tanya Tungga suatu ketika.
“Iya, Ibu cantik” jawab Kartini.
“Kartini adalah salah seorang dari sekian banyaknya perempuan cerdas yang dimiliki Indonesia.”
“Saya mau seperti Kartini yang cerdas dan suka membaca serta mengaji. Karena saya Kartini. “
“Bagus sekali!”
Dan obrolan mereka melebar ke berbagai hal selain tentang Kartini. Tungga mulai mengajak Kartini, teman barunya itu, ke rumahnya. Memberinya kesempatan memuaskan dahaga akan bacaan. Tungga merasa Kartini adalah anak cerdas.
“Ibu, pernikahan dini itu apa sih?” sebuah pertanyaan muncul dari bibir Kartini. Tungga tak terlalu terkejut dengan pertanyaan itu. Di kampung ini memang tingkat pernikahan dini cukup tinggi. Tungga hanya memberikan sabak elektroniknya. “Coba tanya Mbah Google!” Kartini langsung berselancar. Pasti seperti yang sudah-sudah, mereka berdiskusi seru tentang topik baru. Lewat Kartini, Tungga berkenalan dengan guru-guru di SMP-nya. Lewat Kartini, Tungga dan beberapa guru menjadi pustakawan keliling membawa buku-buku dengan beberapa motor. Mereka bersemangat menebar virus literasi. Sayang, tak sampai tiga bulan. Tungga kehilangan Kartini. Ketika menggelar buku-bukunya seorang diri, Tungga bertanya pada seorang anak yang sedang membaca buku. “Si Kartini teh sudah tidak sekolah lagi. Dia sudah disuruh kawin sama bapaknya.”  Deg. Jawaban yang seketika membuat jantungnya seakan berhenti. Kartini. Kartini yang bersemangat Kartini. Pantaslah diskusi tentang pernikahan dini terasa hangat. Pantaslah keinginan mencari tahu tentang pernikahan dini anak itu besar. Pantaslah. Pantaslah. Tak terasa air mata meleleh dari kedua mata bening Tungga. Prihatin dan sedih akan nasib Kartini. Tungga menelepon seorang teman guru Kartini. Menanyakan  kebenaran kabar itu. “Iya benar, Bu Melody. Ada seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan teh dari kampung tetangga yang meminangnya. Oh iya, Kartini menitipkan surat untuk Ibu. Nanti sore saya antar ke rumah Ibu ya.Tungga tak dapat membayangkan betapa kecewanya anak perempuan cerdas itu. Ia yang bercita-cita menjadi sarjana hukum agar perempuan-perempuan di kampungnya melek hukum. Tungga kembali menangis karena banyak rasa yang berkecamuk antara kesal juga sedih sebab tak mampu berbuat apa-apa untuk Kartini. Sore itu di teras rumahnya Tungga terisak. Kertas tulis berisi kata-kata Kartini basah. Seperti basahnya senja itu.
“Ibu Melody Tungga Dewi yang cantik dan baik hati, terima kasih saya pada Tuhan karena dipertemukan dengan Ibu. Dari ibu saya bisa mengetahui siapa itu Kartini. Pahlawan perempuan yang namanya dijadikan nama saya. Ibu, nasib saya harus berhenti sekolah karena bapak saya menerima lamaran dari tuan tanah dari kampung sebelah. Saya harus menikah dengan dia. Tapi saya minta supaya mahar saya nanti buku-buku yang saya tentukan judulnya. Selama dia belum dapat buku-buku itu, saya masih boleh sekolah. Dia setuju. Saya boleh sekolah. Tapi saya ditemani orang suruhannya. Saya tidak bisa ke mana-mana. Sekali lagi, terima kasih Ibu Melody Tungga Dewi.”
NB.
Terkdang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu- R.A. Kartini

Sekali lagi Tungga patah hati, yang kedua kali ini karena Kartini. 


MAKA MERUGILAH ANAK-ANAK YANG MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN BELAJAR KARENA ALASAN SEPELE SEDANGKAN DI TEMPAT LAIN ADA YANG HARUS MENANGIS KARENA TIDAK BISA BELAJAR. 






[1] The Carpenters, The End of The World
[2] Queen, Love of My Life
[3] Sistem Pemosisi Global (bahasa Inggris: Global Positioning System (GPS)) adalah sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit.
[4] Ngabodor (Sunda: melucu, melawak)

Tidak ada komentar: