Sejak
hubungan kasihnya kandas, Tungga merasa dunia tak lagi ramah padanya. Dunia
seperti sedang mengejeknya. Lagu lawas yang disukai bunda seperti lagu yang
disetel otomatis, terdengar terus di kepalanya mulai dari yang bernada mellow
....
Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don’t they know it’s the end of the world?
It ended when i lost your love[1]
yang bernada rock
manis
....
Love of my life, you’ve hurt
me,
You’ve broken my heart and
now you leave me.
Love of my life can’t you
see,
Bring it back, bring it back,
Don’t take me away from me
because you don’t know what it means to me.[2]
Selama seminggu ia
mengurung diri di kamarnya. Menangis. Menyesali kenapa hubungan yang dibinanya
tiga tahun harus berakhir. Hari ini, Tungga merasa cukup sudah ia menjadi
manusia bodoh. Ia harus kembali merasionalisasi pikiran. Ia baik-baik saja,
bahkan bisa lebih baik daripada saat ia bersama kekasihnya dulu. Pilihannya
adalah menyepi ke vila keluarganya di kota C. Kota yang hanya selemparan batu
dari Jakarta tapi masih saja membuat bunda tak tenang melepas putri tunggalnya
walau akhirnya mengizinkan juga demi melihat wajah Tungga kembali berseri.
Mobil hitam berplat 2908 MTD itu
berhenti di depan sebuah rumah besar berpagar kayu. Tungga segera mematikan
mesin, mencabut kunci dari rumahnya, membuka pintu, lalu turun dari mobilnya.
Ia tersenyum. Bersyukur karena perjalanannya lancar jaya berbekal GPS[3] di
dasboard mobilnya. Sudah empat tahun ia tak ke mari. Sebuah rumah
peristirahatan keluarga yang saat ini sepi tanpa penghuni. Kalau kata ayah, “Ini rumah investasi.” Padahal ayah
tahu, nilai investasi dalam bentuk rumah pasti menyusut. “Kalau begitu, kita minta Mang Entis untuk menjadi kuncen rumah kita.
Setiap hari membersihkan rumah dan merapikan buku-buku koleksi ayah. Kita gaji
dia setiap bulan. Begitu ya?” jawab ayah kala Tungga mengatakan rugi. Ah,
ayah selalu punya cara. Membantu Mang Entis, tetangga sebelah rumah mereka di
kota C memang hanya petani biasa belum punya sawah sendiri. Dengan bekerja di
rumahnya, ia jadi punya penghasilan tetap setidaknya punya pendapatan selama
musim menganggur tidak ke sawah. Tungga lagi-lagi tersenyum mengenang
percakapan dengan ayah dulu. Wah, sudah dua kali ia tersenyum. Untuk ketiga
kali Tungga tersenyum dalam hitungan menit. “Awal
yang baik. Aku bisa sering-sering tersenyum di sini.” Tanpa disadarinya,
seorang lelaki berusia lebih muda daripada ayahnya telah berdiri santun di
depan Tungga.
“Neng
Tungga,” sapanya pelan tak ingin mengejutkan Tungga.
“Eh,
iya Mang Entis ?” tanya Tungga memastikan.
“Iya,
Neng. Alhamdulillah. Neng Tungga sampai juga di sini dengan selamat. “
“Iya,
Mang Entis. Lancar perjalanannya.”
“Mari,
Neng. Saya antar. Istri saya sudah merapikan rumah dan menyiapkan sedikit
singkong rebus. Singkong baru nyabut tadi,” ajak Mang Entis.
Mereka masuk ke
rumah bermodel sederhana itu setelah Mang Entis berjanji akan memarkirkan
mobilnya di pelataran rumah. Bi Tini menyambutnya di dalam rumah. Mereka
berpelukan setelah lama tak bertemu. Setelah mandi, Tungga bercengkrama dengan
Mang Entis dan Bi Tini. Bercerita panjang kali lebar diselingi gelak tawa bila
menyimak cerita konyol dari Mang Entis. Mang Entis paling juara kalau ngabodor.[4]
Sampai akhirnya mereka pamit pulang agar Tungga bisa beristirahat. Tungga
menuju kamarnya lalu merebahkan diri di atas kasur empuk itu. Hawa puncak yang
dingin membuat matanya berat. Memeluk guling segera saja ia lelap. Tanpa mimpi.
Sampai esok hari.
Bangun pagi dengan ringan hati. Ah, tak
salah melarikan diri ke sini. Setelah
sarapan dan secangkir kopi, Tungga menuju halaman. Di sana sepeda motor telah
manis menunggunya. Tungga menungganginya. Hari ini bersama si manis roda dua
itu Tungga jalan-jalan menyusuri kampung. Tungga menemukan titik – titik berkumpulnya
orang-orang di kampung dari semua umur: anak-anak, remaja, sampai orang tua baik
lelaki maaupun perempuan. Tungga tersenyum cerah secerah matahari pagi. Kembali
pulang ke rumah. Penuh semangat ia mengambil setumpuk buku dari perpustakaan
pribadi ayahnya. Kebetulan Mang Entis datang membawa pesanannya. Sebuah kantong
besar yang bisa disampirkan ke jok motor, tempat menaruh buku. Tungga dibantu
Mang Entis menyusun buku-buku dalam kantong yang sudah disampirkan ke jok
motor. Tungga menjajal mengendarai
motor yang bermuatan itu. Mencoba keseimbangan motor saat motor itu dilajukan. Berhasil
berjalan lancar tanpa harus goyang kanan goyang kiri. Tungga kian sumringah.
Dia membalikkan badan, menghadap Mang Entis dan mengacungkan jempolnya. Mang
Entis tersenyum senang.
“Neng Tungga baik-baik saja, Nyonya. Senyumnya
sudah mengembang menjadi tawa. Seperti sedia kala,” lapor Mang Entis kepada
bunda melalui telepon selulernya.
“Terima kasih, Mang Entis. Saya titip Tungga
ya!” jawab bunda sambil berkaca menahan bahagia.
“Iya, Nyonya. Saya berusaha
menjaga Neng Tungga di sini.” jawab Mang Entis mengakhiri hubungan jarak
jauhnya.
“Selamat pagi,
matahari,” gumam Tungga setelah membuka mata dan berucap syukur. Waktu pagi pun
berlalu diisi dengan ritual seperti hari-hari kemarin. Tungga memulai misinya.
Dia nyalakan mesin si cantik roda duanya, menungganginya, mengajaknya jalan
menyusuri rute yang dibuatnya kemarin. Di satu tempat yang agak lapang, Tungga
berhenti. Diparkirnya motor. Diambilnya lipatan plastik tebal sejenis terpal
kemudian digelarnya. Dikeluarkan buku-buku dari kantong untuk disusun di atas
lembaran tersebut. Tungga lalu duduk di sana sambil memegang sebuah buku. Beberapa
anak yang sedang bermain di lapangan sana sepertinya tertarik. Tungga
menurunkan bukunya seraya tersenyum ramah. Anak-anak itu mendekat lalu
berjongkok. Membaca-baca judul buku yang tergelar di depan mereka. “Sok atuh, boleh baca bukunya,” ujar
Tungga. Mereka menatap Tungga untuk memastikan dan Tungga mengangguk sebagai
jawabannya. Mereka saling melihat. Tak lama tangan-tangan mereka mengambil buku
itu. Mulai membaca. Hampir dua jam Tungga duduk di sana. Karena merasa sudah
tak ada peminat, Tungga mengemasi barang-barangnya. Tungga kembali jalan-jalan.
Perhentian kedua adalah tempat kumpulnya para emak-emak. “Permisi, ibu-ibu,”
sapanya, “silakan barangkali ada yang ingin membaca buku.” Tungga berhenti.
“Eh, si neng cantik”
“Bukunya gratis atau beli, Neng?”
“Ada buku artis Syahrini gak, Neng?”
“Buku resep masakan ada, Neng?”
“Ah, saya mah membaca saja sulit, Neng.”
Mereka bergerak menghampiri Tungga dan bukunya. Memilih dan membaca buku
sesuai selera. Hampir dua jam sudah di sana, Tungga berkemas. Menuju tempat
terakhir hari ini. Dekat sekolah menengah. Kali ini laris manis tanpa tunggu
berlama-lama. Begitu buka lapak, anak-anak berseragam putih biru itu segera mengerumuni
Tungga. Berebut memilih buku begitu Tungga mempersilakan sambil mengatakan
gratis. Dari banyaknya anak yang membaca buku, ada yang menarik perhatian
Tungga. Anak perempuan berkulit langsat dengan rambut ikal dan bermata cerdas.
Anak itu memilih buku karya pengarang yang pernah diasingkan ke Pulau Buru.
Sebuah buku yang amat jarang disentuh oleh anak seusianya kalau tak ingin
dikatakan tidak pernah. Buku yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja” rupanya
menarik baginya. Begitu juga pada
beberapa hari berikutnya.
Hari demi hari
berlalu, Tungga makin asyik dengan kegiatan perpustakaan kelilingnya. Secara
berkala buku-buku koleksi sang ayah yang selama ini tersimpan di perpustakaan
pribadi pun dibaca juga oleh orang lain. Tungga juga makin akrab dengan
penduduk di kampung itu. Termasuk dengan anak perempuan itu yang ternyata
bernama Kartini.
“Kamu suka sekali membaca buku tentang Kartini.
Karena itu namamu?” Tanya Tungga suatu ketika.
“Iya, Ibu cantik” jawab Kartini.
“Kartini adalah salah seorang dari sekian
banyaknya perempuan cerdas yang dimiliki Indonesia.”
“Saya mau seperti Kartini yang cerdas dan suka
membaca serta mengaji. Karena saya Kartini. “
“Bagus sekali!”
Dan obrolan
mereka melebar ke berbagai hal selain tentang Kartini. Tungga mulai mengajak Kartini,
teman barunya itu, ke rumahnya. Memberinya kesempatan memuaskan dahaga akan
bacaan. Tungga merasa Kartini adalah anak cerdas.
“Ibu, pernikahan dini itu apa sih?” sebuah pertanyaan muncul dari bibir Kartini.
Tungga tak terlalu terkejut dengan pertanyaan itu. Di kampung ini memang
tingkat pernikahan dini cukup tinggi. Tungga hanya memberikan sabak
elektroniknya. “Coba tanya Mbah Google!” Kartini
langsung berselancar. Pasti seperti yang sudah-sudah, mereka berdiskusi seru
tentang topik baru. Lewat Kartini, Tungga berkenalan dengan guru-guru di
SMP-nya. Lewat Kartini, Tungga dan beberapa guru menjadi pustakawan keliling
membawa buku-buku dengan beberapa
motor. Mereka bersemangat menebar virus literasi. Sayang,
tak sampai tiga bulan. Tungga kehilangan Kartini. Ketika menggelar buku-bukunya
seorang diri, Tungga bertanya pada seorang anak yang sedang membaca buku. “Si Kartini teh sudah tidak sekolah lagi. Dia
sudah disuruh kawin sama bapaknya.”
Deg. Jawaban yang seketika membuat jantungnya seakan berhenti. Kartini.
Kartini yang bersemangat Kartini. Pantaslah diskusi tentang pernikahan dini
terasa hangat. Pantaslah keinginan mencari tahu tentang pernikahan dini anak
itu besar. Pantaslah. Pantaslah. Tak terasa air mata meleleh dari kedua mata
bening Tungga. Prihatin dan sedih akan nasib Kartini. Tungga menelepon seorang teman guru Kartini. Menanyakan kebenaran kabar itu. “Iya benar, Bu Melody. Ada seorang tuan tanah yang
memiliki perkebunan teh dari
kampung tetangga yang meminangnya. Oh iya, Kartini menitipkan surat untuk Ibu.
Nanti sore saya antar ke
rumah Ibu ya.” Tungga tak dapat membayangkan betapa kecewanya anak
perempuan cerdas itu. Ia yang
bercita-cita menjadi sarjana hukum agar perempuan-perempuan di kampungnya melek
hukum. Tungga kembali menangis karena
banyak rasa yang berkecamuk antara kesal juga sedih sebab tak mampu berbuat
apa-apa untuk Kartini. Sore itu di
teras rumahnya Tungga terisak. Kertas tulis berisi kata-kata Kartini basah. Seperti basahnya senja itu.
“Ibu Melody Tungga Dewi yang cantik dan baik hati, terima kasih saya pada
Tuhan karena dipertemukan dengan Ibu. Dari ibu saya bisa mengetahui siapa itu Kartini.
Pahlawan perempuan yang namanya dijadikan nama saya. Ibu, nasib saya harus berhenti sekolah karena bapak saya menerima lamaran dari tuan tanah
dari kampung sebelah. Saya harus menikah dengan dia. Tapi saya minta supaya mahar saya nanti buku-buku yang
saya tentukan judulnya. Selama dia belum dapat buku-buku itu, saya masih boleh
sekolah. Dia setuju.
Saya boleh sekolah. Tapi saya ditemani orang suruhannya. Saya tidak bisa ke
mana-mana. Sekali lagi,
terima kasih Ibu Melody Tungga Dewi.”
NB.
Terkdang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu
sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu- R.A. Kartini
Sekali lagi Tungga patah hati, yang kedua kali ini
karena Kartini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar