Jumat, 21 November 2014

PETRICHOR


Aroma tanah basah merayu penciuman
untuk disesap penuh kerinduan
petrichor

*ketika hujan turun pertama kali di bulan Oktober
  13/10/2014
KASIHAN


Rindu membujur di sendirian
Tak punya tujan
Tak ada alamat untuk disampaikan
Kasihan



Jakarta, 15/08/2014

Minggu, 14 September 2014

Anekdot 3

https://sites.google.com/a/nusumma.com/humor-anekdot/lelucon-sabetan/rokokkiai


Di satu pesantren di jombang jawa timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kyai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran.Beberapa gelintir  santri-santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiyai.Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok."Kang, join rokoknya ya..." katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjukknya.Temannya langsung menyerakan rokok yang dipegangnya.Santri perokok langsung mengisapnya. "Alhamdulillah, nikmatnya..." katanya. Diteruskan dengan isapan kedua.Rokok semakin menyala, dan... dalam gelap dengan bantuan nyala rokok itu lamat-lamat ia baru sadar siapa yang sedang dimintainya rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan  hisapan ketiga... Rokok semakin meyala terang.Ternyata... yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri.Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.Sang kiyai marah besar: "Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya, kang..."
Bacalah teks anekdotRokok Sang Kyai”  di atas dengan cermat kemudian
1.analisislah dari segi isinya!
2.analisislah dari segi struktur dan kaidahnya!
3.analisislah dari segi bahasanya!
4.suntinglah dari segi struktur dan kaidahnya!
5.suntinglah dari segi bahasanya!

Senin, 25 Agustus 2014

PARADOKS

Ada sepi menggantung di sudut hati
sementara riuh bayang dan nama-nama di udara



DEWASA

Peristiwa demi peristiwa bertubi mencium hidup
Sambut ia dengan senyum
dan air mata jika bahagia
dan kecup mesra bila nestapa
Bergelut berulang sampai kering segala keringat
Dan bermetamorfosis
Berbentuk semua rupa
Kadang sangat kuat
Kadang begitu rapuh luluh
Proses menjadi dewasa ternyata selamanya

Rabu, 25 Juni 2014

DOA



Lukaku
Lukamu
Lukakita

Darahku
Darahmu
Darahkita

Tangisku
Tangismu
Tangiskita

Semua terburai di atas sajadah kala aku, kamu, dan kita berjumpa dengan-NYA dalam doa

GURU PROFESIONAL

Sesungguhnya ALLAH suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (profesional atau ahli) - HR Ahmad

Saya suka sekali dengan riwayat ini. Entah mengapa, rasanya pas sekali dengan tuntutan situasi kondisi saat ini. Situasi global yang  mengubah hakikat kerja dari amatirisme menuju kepada profesionalisme. Legitimasi dari suatu pekerjaan atau jabatan di dalam masyarakat sekarang tidak lagi didasarkan kepada amatirisme atau keterampilan yang diturunkan atau dengan dasar-dasar yang lain, tetapi berdasarkan kepada kemampuan seseorang yang diperoleh secara sadar dan terarah dalam menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan dan keterampilan. 

Secara sederhana, profesional berasal dari kata profesi yang berarti jabatan. Orang yang profesional adalah orang yang mampu melaksanakan tugas jabatannya secara mumpuni, baik secara konseptual maupun aplikatif. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan mumpuni dalam melaksanakan tugas jabatan guru, baik sebagai pengajar maupun sebagai pendidik.

Pemerintah berkewajiban melaksanakan pembinaan sebagai upaya peningkatan keprofesionalan guru. Hal itu merupakan keniscayaan. Guru perlu mendapat seminar, pelatihan, dan pendidikan tersistem dan berkelanjutan agar guru menjadi profesional. Dengan pembinaan guru dapat mengembangkan empat kompetensi yang disyaratkan dalam  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1). 

Guru profesional tidak semata sebutan. Guru harus mampu memotivasi dirinya sendiri untuk menjadi profesional. Guru tidak boleh malas menambah wawasan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan mengajar dan mendidik. Melalui berbagai forum guru dapat bertukar pikiran dan bertukar informasi sehingga kelak dapat melaksanakan pembelajaran yang aktif, dinamis, dan demokratis seiring tututan profesionalisme. Kita tentu ingin profesi kita disejajarkan dengan profesi lain seperti dokter dan pengacara, bukan?