Jangan terbitkan cinta yang melebihi cintaku kepadaMU (5/4/10)
NamaMU kuukir pada larik senja kala langit jingga (20/4/10)
Lambungkan asaku hanya padaMU (20/4/10)
Jangan sapu rinduku yang hanya sebutir debu di kebesaranMU (17/4/10)
Tak ada tempat berpaling selain KAU (7/10)
Cukupkan cintaku padaMU maka semua akan sempurna (16/10/11)
Kecantikan dan ketampanan hanya dapat dilihat oleh mata. Keikhlasan dan kebaikan akan terlihat oleh mata dan hati ,,,,
Selasa, 25 Oktober 2011
Senin, 24 Oktober 2011
Don't judge a book by its cover VS Kesan pertama menentukan
Don't judge a book by its cover
Hmm ,, jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Emang bener sih. Hehehe. Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi saja loh, nggak bisa digeneralisasikan. Yaa, kalo pun ada kesamaan itu berarti kebetulan semata. Hehehe. Saya ini termasuk orang yang sebenarnya lebih senang sendiri tapi saya punya banyak teman dan sahabat. Tiap jenjang hidup saya, ada 'genk'nya. Hehehe. Saya juga senang ikut gabung organisasi atau kelompok tertentu dengan harapan saya dapat sesuatu yang baru darinya. Dan benar sih. Dari beberapa kelompok itu saya dapat 'something new' yang malah bikin saya keluar dari kelompok karena ternyata saya sama sekali gak sreg. Hehehe. Dulu saya pernah ikut ekskul keagamaan. Saya pikir saya bisa tambah paham agama karena bersama teman-teman yang pakaiannya rapat tertutup (perempuan) dan berjenggot (lelaki) itu saya bisa belajar agama bersama. Eh, ternyata ,, cuma sedikit banget yang benar-benar menerima saya yang cuex abis ini. Yang lain? gak tuh. Akhirnya saya gak rajin-rajin lagi ikut ekskul itu. Sakit hati karena didiskriminasi. Trus, di era fb-an ini juga saya syok lagi. Ceritanya, seorang teman cowok -ehm, sumpah, saya cinta dia- men-suggest saya ikutan grup yang kesannya agamis banget. Saya bergabung dengan grup itu. So, tiap ada yang updates status tentu saya bisa tahu. Saya terkejut. Ternyata ,, baik pria maupun wanita (terutama) gak malu-malu mengungkapkan keinginan untuk mendapatkan pasangan alias keinginan menikah lewat status mereka. Padahal, saya saja malu menyatakan itu di forum meskipun forum santai harusnya mereka juga lebih punya malu yaa. Saya juga membaca komentar-komentar mereka yang buat saya "enggak banget". Komentar-komentar itu saya rasakan terlalu menghakimi seseorang sehingga seolah merekalah yang paling benar. Buat saya yang ilmu agamanya sangat dangkal, mereka itu justru membuat orang jadi jauh dari agama. Yang gak ngerti bisa makin gak ngerti karena apa-apa langsung disalahkan, dibilang dosa. Padahal urusan dosa dan gak dosa itu kan urusan Gusti Allah yaa ??? Katanya mereka paham agama, tapi koq malah tidak menunjukkan ciri agama itu sendiri -yang rahmatan lil alain, yang rahman dan rahim. Setelah satu kali saya berkomentar, saya remove dari grup itu. Saya malu menjadi bagian dari grup yang isinya orang-orang yang tak bisa mencerminkan agama mereka meskipun hanya lewat kata-kata. Memang benar sekali, kita gak boleh menilai seseorang dari tampak luarnya saja. Yang alim, yang pinter, yang aktivis ternyata masih bisa ngecengin orang atau ngomongin orang tanpa merasa bersalah. Hmmmm ....
Kesan pertama menentukan
Yang ini sih iklan sebuah pengharum badan khusus pria. Hehehe. Tapi faktanya, dalam beberapa hal ini ngaruh juga. Profesi saya sebagai guru, misalnya, membutuhkan sebuah penampilan yang menjelaskan bahwa saya ini guru sebelum orang lain melihat saya beraktivitas sebagai guru. Alhasil, saya harus pakai setelan blazer dan rambut panjang saya harus dicepol yang membuat saya terlihat bagai ibu-ibu beranak lima. Hehehe. Sukses sih , banyak orang yang memanggil saya "ibu" dan percaya kalau saya 'guru' tapi guru sd. Lhoooo ,, padahal saya ini guru smk. Jadi guru sd itu susah sekali makanya saya nggak mau jadi guru sd. Tapi, jujur saja, saya gak sreg sama tampilan itu. Saya justru mau mengubah pandangan orang kalau guru itu bisa tampil keren kayak esmud-esmud di pusat kota itu alias modis. Hehhehe. Tambahan lagi, saya malah diprotes sama anak-anak didik saya terutama anak-anak perwalian saya. Mereka lebih suka style saya yang rapi ala orang kantoran. Hehehe. Toh, dengan tampilan gaya kantoran itu sudah berhasil membuat saya diterima oleh kabag pendidikan tempat saya mengajar. Kesan pertama memang menetukan tapi selanjutnya kan terserah anda. Kesan pertama memang penting untuk menarik perhatian orang tapi kesan selanjutnya yang lebih penting. Hehehe.
Ujung-ujungnya ,, saya lebih suka pada peribahasa "Don't judge a book by its cover" tinimbang peribahasa iklan "Kesan pertama menentukan". Sebab, tampilan luar yang berkesan saat pertamna kali kita lihat tidak selalu menggambarkan isinya. Hehehe. Yang tidak setuju dengan saya yaaa nggak apa-apa. Bagus kan ??? Kalau kita punya pendapat yang berbeda ??? Yang penting saling menghargai. Beragam tapi indah seperti Gusti Allah menciptakan pelangi.
Hmm ,, jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Emang bener sih. Hehehe. Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi saja loh, nggak bisa digeneralisasikan. Yaa, kalo pun ada kesamaan itu berarti kebetulan semata. Hehehe. Saya ini termasuk orang yang sebenarnya lebih senang sendiri tapi saya punya banyak teman dan sahabat. Tiap jenjang hidup saya, ada 'genk'nya. Hehehe. Saya juga senang ikut gabung organisasi atau kelompok tertentu dengan harapan saya dapat sesuatu yang baru darinya. Dan benar sih. Dari beberapa kelompok itu saya dapat 'something new' yang malah bikin saya keluar dari kelompok karena ternyata saya sama sekali gak sreg. Hehehe. Dulu saya pernah ikut ekskul keagamaan. Saya pikir saya bisa tambah paham agama karena bersama teman-teman yang pakaiannya rapat tertutup (perempuan) dan berjenggot (lelaki) itu saya bisa belajar agama bersama. Eh, ternyata ,, cuma sedikit banget yang benar-benar menerima saya yang cuex abis ini. Yang lain? gak tuh. Akhirnya saya gak rajin-rajin lagi ikut ekskul itu. Sakit hati karena didiskriminasi. Trus, di era fb-an ini juga saya syok lagi. Ceritanya, seorang teman cowok -ehm, sumpah, saya cinta dia- men-suggest saya ikutan grup yang kesannya agamis banget. Saya bergabung dengan grup itu. So, tiap ada yang updates status tentu saya bisa tahu. Saya terkejut. Ternyata ,, baik pria maupun wanita (terutama) gak malu-malu mengungkapkan keinginan untuk mendapatkan pasangan alias keinginan menikah lewat status mereka. Padahal, saya saja malu menyatakan itu di forum meskipun forum santai harusnya mereka juga lebih punya malu yaa. Saya juga membaca komentar-komentar mereka yang buat saya "enggak banget". Komentar-komentar itu saya rasakan terlalu menghakimi seseorang sehingga seolah merekalah yang paling benar. Buat saya yang ilmu agamanya sangat dangkal, mereka itu justru membuat orang jadi jauh dari agama. Yang gak ngerti bisa makin gak ngerti karena apa-apa langsung disalahkan, dibilang dosa. Padahal urusan dosa dan gak dosa itu kan urusan Gusti Allah yaa ??? Katanya mereka paham agama, tapi koq malah tidak menunjukkan ciri agama itu sendiri -yang rahmatan lil alain, yang rahman dan rahim. Setelah satu kali saya berkomentar, saya remove dari grup itu. Saya malu menjadi bagian dari grup yang isinya orang-orang yang tak bisa mencerminkan agama mereka meskipun hanya lewat kata-kata. Memang benar sekali, kita gak boleh menilai seseorang dari tampak luarnya saja. Yang alim, yang pinter, yang aktivis ternyata masih bisa ngecengin orang atau ngomongin orang tanpa merasa bersalah. Hmmmm ....
Kesan pertama menentukan
Yang ini sih iklan sebuah pengharum badan khusus pria. Hehehe. Tapi faktanya, dalam beberapa hal ini ngaruh juga. Profesi saya sebagai guru, misalnya, membutuhkan sebuah penampilan yang menjelaskan bahwa saya ini guru sebelum orang lain melihat saya beraktivitas sebagai guru. Alhasil, saya harus pakai setelan blazer dan rambut panjang saya harus dicepol yang membuat saya terlihat bagai ibu-ibu beranak lima. Hehehe. Sukses sih , banyak orang yang memanggil saya "ibu" dan percaya kalau saya 'guru' tapi guru sd. Lhoooo ,, padahal saya ini guru smk. Jadi guru sd itu susah sekali makanya saya nggak mau jadi guru sd. Tapi, jujur saja, saya gak sreg sama tampilan itu. Saya justru mau mengubah pandangan orang kalau guru itu bisa tampil keren kayak esmud-esmud di pusat kota itu alias modis. Hehhehe. Tambahan lagi, saya malah diprotes sama anak-anak didik saya terutama anak-anak perwalian saya. Mereka lebih suka style saya yang rapi ala orang kantoran. Hehehe. Toh, dengan tampilan gaya kantoran itu sudah berhasil membuat saya diterima oleh kabag pendidikan tempat saya mengajar. Kesan pertama memang menetukan tapi selanjutnya kan terserah anda. Kesan pertama memang penting untuk menarik perhatian orang tapi kesan selanjutnya yang lebih penting. Hehehe.
Ujung-ujungnya ,, saya lebih suka pada peribahasa "Don't judge a book by its cover" tinimbang peribahasa iklan "Kesan pertama menentukan". Sebab, tampilan luar yang berkesan saat pertamna kali kita lihat tidak selalu menggambarkan isinya. Hehehe. Yang tidak setuju dengan saya yaaa nggak apa-apa. Bagus kan ??? Kalau kita punya pendapat yang berbeda ??? Yang penting saling menghargai. Beragam tapi indah seperti Gusti Allah menciptakan pelangi.
Senin, 17 Oktober 2011
LIFE IS NEVER FLAT
Tagline sebuah produk keripik kentang ini memang pas bener buat menggambarkan hidup manusia khususnya gw. Hehehe. Gw kira hidup gw bakal mulus aja kayak jalan tol. Segala lancar, rutin, bahkan membosankan, bikin gw 'ngantuk'!!! Hehehe. Mungkin karena ngeliat gw keenakan kayak gitu, TUHAN bangunin gw. Gelombang pertama gw temui saat gw kelas dua sma.
Tahun ajaran 93-94 gw masuk jurusan fisik setelah bikin perjanjian sama guru BP gw. Hehehe. Itu terjadi karena minat gw gak seiring dengan hasil tes psikologi gw sebagai dasar penjurusan kelas dua dan tiga. Aslinya gw pengen banget masuk jurusan bahasa eh hasil tes menunjukkan kalo kemampuan gw lebih ke jurusan fisika. Nggak ada pilihan biologi atau sosial apalagi bahasa. Dari empat kotak jurusan, cuma ilmu-ilmu fisik aja yang dicentang. Huh, nyebelin banget. Gw ngerayu nyokap supaya mindahin gw ke sma lain yang ada jurusan bahasanya tapi nyokap dengan senang hati menolak dengan alasan temen-temen gw sejak sd berada di sma yang sama. Gw tetap tulis jurusan bahasa di formulir penjurusan. Lalu gw dipanggil sama guru BP. Beliau menyarankan gw buat ambil jurusan sosial kalo memang gw gak mau masuk jurusan fisika. Gw gak mau karena gw pikir pelajaran di jurusan sosial susah. Antropologi, sosiologi, akuntansi ,, uhh, pasti njelimet. Guru BP gw mati gaya -gw rasa- terhadap kekeuh sumekeuhnya gw. Akhirnya beliau tanya apa maunya gw. Ya udah, gw bilang aja, gw masuk fisika tapi kalo satu semester nilai gw jelek ya gw keluar dari sekolah. Beliau tanya lagi , kalo nilai bagus gimana ? Ya, terpaksa gw lanjutin. Deal. Akhirnya gw masuk fisika. Satu semester berlalu dengan keikhlasan belajar cuma 10 %, cuma buat pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pas pembagian rapor bayangan dan rapor beneran, nilai gw gak jelek-jelek amat. Masihlah di dalam urutan 15 besar dari 48 siswa. Huhhhhh. Gw harus tetep di kelas ini. Temen-temen di kelas gw sih asik, dan alim, dan pinter. Tapi gw gak nyaman. Kimia, fisika, dan matematika adalah pelajaran paling menyebalkan yang harus gw santap tiap hari. Wali kelas gw kebetulan guru matematika. Alhasil, kalo ada guru yang gak masuk, beliau dengan senang hati menggantinya dengan matematika. Pernah seharian pelajaran kelas gw math only. Tinggal gw yang muntah. Hehehe. Nah, karena gak ikhlas belajar itulah hidup gw mendapat gelombang pertama saat kenaikan kelas dua ke kelas tiga. Gw dapat nilai lima di rapor buat pelajaran kimia. Nilai terburuk sepanjang persekolahan gw. Wali kelas gw gak percaya bilang ke nyokap sambil tanya apa gw ada masalah di rumah. Nyokap gw juga gak percaya apalagi liat urutan nilai gw ada di angka 21. Asli, pas sampai di rumah, gw nangis sejadi-jadinya. Malu banget. Sampai gw gak keluar kamar seharian. Nyokap sih gak masalah. Doi cuek aja, doi cuma bilang ya udah belajar lagi yang bener dan doi nyuruh gw tetep dateng ke acara makan bersama di rumah temen sekelas gw. Padahal gw lagi malu banget tuh. Teman-teman sekelas juga gak percaya gw bisa dapat nilai lima di rapor. Ya, udahlah ,, mau gimana lagi. Belajar lagi yang bener dalam pelajaran kimia.
Udah terlanjur di kelas fisika. Malu gw terbayar karena di kelas tiga nilai gw naik lagi. Wali kelas gw, lagi-lagi guru matematika, bilang ke nyokap kalo beliau surprised dengan nilai gw yang melesat. Dari urutan 21 menjadi 10 besar. Nyokap seperti biasa, cuex dan santai, doi bilang mungkin gw malu karena seumur-umur gak pernah dapet nilai merah. Semester berikutnya nilai gw naik lagi masuk 5 besar. Nilai ujian gw juga gak jelek-jelek amat. Well, gw mungkin masih dapet nilai pas-pasan kalo gw gak dapat gelombang pertama yaa .
Gelombang kedua gw lalui saat gw di bangku kuliah tahun terakhir sekitar 2001. Berapa kali gw mengajukan judul skripsi selalu ditolak oleh dosen koordinator skripsi yang kebetulan sekali beliau PA gw dan tahu sekali nilai-nilai kuliah gw. Begitu judul terakhir gw udah pasrah. Kali ini skripsi gw kuantitatif ada hitungan statistik yang agak ribet. Eh, malah diterima. Ya udah, mulai menulislah gw. Tapi, penulisan itu tersendat karena di kurun waktu yang sama , nyokap gw sakit dan harus dirawat di rumah sakit cukup lama dan berkali-kali. Gelombang ini gw rasa lebih besar dan lebih lama daripada gelombang yang gw rasa tahun 1994. Gw nyaris putus asa. Gw males lanjutin kuliah yang sudah sampai skripsi. Gw pikir, gak papa deh gak kelar kuliah asal gw bisa ngurusin nyokap gw. Gw satu-satunya anak perempuan di rumah jadi yang bisa maksimal urusin nyokap ya cuma gw. Tapi nyokap gw pengen banget anaknya lulus. Karena lama gak konsultasi ke dosen pembimbing, dosen gw sempat lupa ma gw dan tulisan gw. Syukurlah, dosen-dosen muda gw menyemangati gw dan membantu melancarkan proses ujian. Gw udah gak peduli lagi sama hasilnya. Yang penting saat itu gw lulus. Gw dapet nilai B padahal dosen gw bilang gw dapat A. Biarlah. Gw diwisuda ditemenin bokap karena kondisi nyokap yang harus pake kursi roda bikin nyokap gak nyaman kalo ikut wisuda. Apalagi di kampus gw wisudanya di lapangan depan perpustakaan. Setelah wisuda gw konsen rawat nyokap yang sakitnya makin parah. Gw akui, pernah sekali gw merasa kesal sama nyokap gara-gara sarapan. Antara kesal dan menyesal gw nangis sambil bikinin mi goreng buat nyokap. Tapi setelah itu gw santai. Sejak kecil gw diurus nyokap, skarang apa salahnya gantian gw yang urus nyokap dan urus keluarga. Gw bisa masak, gw bisa suntik insulin, gw bisa ganti perban kalo ada luka di tubuh nyokap, gw bisa ganti infus, gw bisa ngatur gaji bokap buat bayar perawat. Tawaran mengajar gw tolak karena gw gak mw kehilangan momen sama nyokap. Sampai ....
15 Januari 2004. Gelombang tertinggi dan terdasyat yang menghempaskan hidup gw sampai sekarang masih terasa sakitnya. Nyokap gw menghadap TUHANnya jam 3.15 pagi. Waktu itu gw bangun buat ganti infus. Nyokap yang tidur di sebelah gw lagi ditungguin bokap. Adek-adek gw baru masuk kamar masing-masing. Gw memang minta mereka temenin nyokap selama gw tidur meskipun gw tidur sejam. Bokap masuk kamar setelah gw bangun. Gw pandangi nyokap. Entah mengapa, jantung gw berdebar gak menentu. Gw panggil adek-adek gw dan sodara gw yang tidur di kamar. Gw minta mereka baca surat Yassin. Gw duduk di sebelah nyokap dan adek-adek gw di depan nyokap. Gw bisikin kalimat syahadat. Sampai sebuah tarikan nafas panjang,,, nyokap menutup mata. Gw merasa inilah saatnya. Gw mengucap innalillahi ... dan gw bilang ke nyokap, "kalo mau pergi, pergi aja, mak .. Eko ikhlas" setelah itu dalam pendengaran gw, ada suara gagak lewat atas rumah. Adek-adek gw nangis dan bokap keluar kamar tanpa lihat nyokap pergi. Kata orang jawa 'nyimpe'ke' Tapi gw kan harus berpikir logis, meski gak yakin, gw telpon nyokapnya temen gw yang perawat. Gw masih mau bawa nyokap ke rumah sakit tapi agak susah, gw hubungi perawat nyokap susah juga. Adek gw gw minta ke klinik 24 jam untuk panggil dokter untuk memastikan. Karena gak ada, gw minta bokap dan adek gw jemput perawat. Perawat gw memastikan bahwa nyokap udah pergi. Gw gak tauk harus sedih atau senang. Yang gw pikir adalah TUHAN selalu tahu yang terbaik buat nyokap gw. Nyokap gw dimakamkan di pemakaman kampung bokap gw. Eyang kakung dari garis bokap yang minta nyokap disemayamkan dan dimakamkan di sama.
Sejak saat itu, gelombang hidup gw rasanya makin banyak. Dua gelombang sesaat setelah kepergian nyokap ke rumah TUHAN masih bikin gw trauma. Ditambah satu gelombang pada akhir 2009, sakit hati gw masih ada. Hmm, sebenarnya gw bisa menyiasati gelombang itu agar gw gak frustasi. Caranya ya menikmati saja. Olah raga surfing. Hehehe. Cukup tiga gelombang terakhir yang mengendapkan gw ke dalamnya. Yang lainnya ,, gw usahakan tidak. Kalo gak begelombang, gak nikmat. Coba aja jalan tol, kalo terlalu mulus, sopir bisa ngantuk kan ? Makanya selang berapa meter ada polisi tidurnya supaya tetap sadar. Kalo sadar, tetap ingat sama TUHAN kan ,,,,,,,,,,,,,
Tahun ajaran 93-94 gw masuk jurusan fisik setelah bikin perjanjian sama guru BP gw. Hehehe. Itu terjadi karena minat gw gak seiring dengan hasil tes psikologi gw sebagai dasar penjurusan kelas dua dan tiga. Aslinya gw pengen banget masuk jurusan bahasa eh hasil tes menunjukkan kalo kemampuan gw lebih ke jurusan fisika. Nggak ada pilihan biologi atau sosial apalagi bahasa. Dari empat kotak jurusan, cuma ilmu-ilmu fisik aja yang dicentang. Huh, nyebelin banget. Gw ngerayu nyokap supaya mindahin gw ke sma lain yang ada jurusan bahasanya tapi nyokap dengan senang hati menolak dengan alasan temen-temen gw sejak sd berada di sma yang sama. Gw tetap tulis jurusan bahasa di formulir penjurusan. Lalu gw dipanggil sama guru BP. Beliau menyarankan gw buat ambil jurusan sosial kalo memang gw gak mau masuk jurusan fisika. Gw gak mau karena gw pikir pelajaran di jurusan sosial susah. Antropologi, sosiologi, akuntansi ,, uhh, pasti njelimet. Guru BP gw mati gaya -gw rasa- terhadap kekeuh sumekeuhnya gw. Akhirnya beliau tanya apa maunya gw. Ya udah, gw bilang aja, gw masuk fisika tapi kalo satu semester nilai gw jelek ya gw keluar dari sekolah. Beliau tanya lagi , kalo nilai bagus gimana ? Ya, terpaksa gw lanjutin. Deal. Akhirnya gw masuk fisika. Satu semester berlalu dengan keikhlasan belajar cuma 10 %, cuma buat pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pas pembagian rapor bayangan dan rapor beneran, nilai gw gak jelek-jelek amat. Masihlah di dalam urutan 15 besar dari 48 siswa. Huhhhhh. Gw harus tetep di kelas ini. Temen-temen di kelas gw sih asik, dan alim, dan pinter. Tapi gw gak nyaman. Kimia, fisika, dan matematika adalah pelajaran paling menyebalkan yang harus gw santap tiap hari. Wali kelas gw kebetulan guru matematika. Alhasil, kalo ada guru yang gak masuk, beliau dengan senang hati menggantinya dengan matematika. Pernah seharian pelajaran kelas gw math only. Tinggal gw yang muntah. Hehehe. Nah, karena gak ikhlas belajar itulah hidup gw mendapat gelombang pertama saat kenaikan kelas dua ke kelas tiga. Gw dapat nilai lima di rapor buat pelajaran kimia. Nilai terburuk sepanjang persekolahan gw. Wali kelas gw gak percaya bilang ke nyokap sambil tanya apa gw ada masalah di rumah. Nyokap gw juga gak percaya apalagi liat urutan nilai gw ada di angka 21. Asli, pas sampai di rumah, gw nangis sejadi-jadinya. Malu banget. Sampai gw gak keluar kamar seharian. Nyokap sih gak masalah. Doi cuek aja, doi cuma bilang ya udah belajar lagi yang bener dan doi nyuruh gw tetep dateng ke acara makan bersama di rumah temen sekelas gw. Padahal gw lagi malu banget tuh. Teman-teman sekelas juga gak percaya gw bisa dapat nilai lima di rapor. Ya, udahlah ,, mau gimana lagi. Belajar lagi yang bener dalam pelajaran kimia.
Udah terlanjur di kelas fisika. Malu gw terbayar karena di kelas tiga nilai gw naik lagi. Wali kelas gw, lagi-lagi guru matematika, bilang ke nyokap kalo beliau surprised dengan nilai gw yang melesat. Dari urutan 21 menjadi 10 besar. Nyokap seperti biasa, cuex dan santai, doi bilang mungkin gw malu karena seumur-umur gak pernah dapet nilai merah. Semester berikutnya nilai gw naik lagi masuk 5 besar. Nilai ujian gw juga gak jelek-jelek amat. Well, gw mungkin masih dapet nilai pas-pasan kalo gw gak dapat gelombang pertama yaa .
Gelombang kedua gw lalui saat gw di bangku kuliah tahun terakhir sekitar 2001. Berapa kali gw mengajukan judul skripsi selalu ditolak oleh dosen koordinator skripsi yang kebetulan sekali beliau PA gw dan tahu sekali nilai-nilai kuliah gw. Begitu judul terakhir gw udah pasrah. Kali ini skripsi gw kuantitatif ada hitungan statistik yang agak ribet. Eh, malah diterima. Ya udah, mulai menulislah gw. Tapi, penulisan itu tersendat karena di kurun waktu yang sama , nyokap gw sakit dan harus dirawat di rumah sakit cukup lama dan berkali-kali. Gelombang ini gw rasa lebih besar dan lebih lama daripada gelombang yang gw rasa tahun 1994. Gw nyaris putus asa. Gw males lanjutin kuliah yang sudah sampai skripsi. Gw pikir, gak papa deh gak kelar kuliah asal gw bisa ngurusin nyokap gw. Gw satu-satunya anak perempuan di rumah jadi yang bisa maksimal urusin nyokap ya cuma gw. Tapi nyokap gw pengen banget anaknya lulus. Karena lama gak konsultasi ke dosen pembimbing, dosen gw sempat lupa ma gw dan tulisan gw. Syukurlah, dosen-dosen muda gw menyemangati gw dan membantu melancarkan proses ujian. Gw udah gak peduli lagi sama hasilnya. Yang penting saat itu gw lulus. Gw dapet nilai B padahal dosen gw bilang gw dapat A. Biarlah. Gw diwisuda ditemenin bokap karena kondisi nyokap yang harus pake kursi roda bikin nyokap gak nyaman kalo ikut wisuda. Apalagi di kampus gw wisudanya di lapangan depan perpustakaan. Setelah wisuda gw konsen rawat nyokap yang sakitnya makin parah. Gw akui, pernah sekali gw merasa kesal sama nyokap gara-gara sarapan. Antara kesal dan menyesal gw nangis sambil bikinin mi goreng buat nyokap. Tapi setelah itu gw santai. Sejak kecil gw diurus nyokap, skarang apa salahnya gantian gw yang urus nyokap dan urus keluarga. Gw bisa masak, gw bisa suntik insulin, gw bisa ganti perban kalo ada luka di tubuh nyokap, gw bisa ganti infus, gw bisa ngatur gaji bokap buat bayar perawat. Tawaran mengajar gw tolak karena gw gak mw kehilangan momen sama nyokap. Sampai ....
15 Januari 2004. Gelombang tertinggi dan terdasyat yang menghempaskan hidup gw sampai sekarang masih terasa sakitnya. Nyokap gw menghadap TUHANnya jam 3.15 pagi. Waktu itu gw bangun buat ganti infus. Nyokap yang tidur di sebelah gw lagi ditungguin bokap. Adek-adek gw baru masuk kamar masing-masing. Gw memang minta mereka temenin nyokap selama gw tidur meskipun gw tidur sejam. Bokap masuk kamar setelah gw bangun. Gw pandangi nyokap. Entah mengapa, jantung gw berdebar gak menentu. Gw panggil adek-adek gw dan sodara gw yang tidur di kamar. Gw minta mereka baca surat Yassin. Gw duduk di sebelah nyokap dan adek-adek gw di depan nyokap. Gw bisikin kalimat syahadat. Sampai sebuah tarikan nafas panjang,,, nyokap menutup mata. Gw merasa inilah saatnya. Gw mengucap innalillahi ... dan gw bilang ke nyokap, "kalo mau pergi, pergi aja, mak .. Eko ikhlas" setelah itu dalam pendengaran gw, ada suara gagak lewat atas rumah. Adek-adek gw nangis dan bokap keluar kamar tanpa lihat nyokap pergi. Kata orang jawa 'nyimpe'ke' Tapi gw kan harus berpikir logis, meski gak yakin, gw telpon nyokapnya temen gw yang perawat. Gw masih mau bawa nyokap ke rumah sakit tapi agak susah, gw hubungi perawat nyokap susah juga. Adek gw gw minta ke klinik 24 jam untuk panggil dokter untuk memastikan. Karena gak ada, gw minta bokap dan adek gw jemput perawat. Perawat gw memastikan bahwa nyokap udah pergi. Gw gak tauk harus sedih atau senang. Yang gw pikir adalah TUHAN selalu tahu yang terbaik buat nyokap gw. Nyokap gw dimakamkan di pemakaman kampung bokap gw. Eyang kakung dari garis bokap yang minta nyokap disemayamkan dan dimakamkan di sama.
Sejak saat itu, gelombang hidup gw rasanya makin banyak. Dua gelombang sesaat setelah kepergian nyokap ke rumah TUHAN masih bikin gw trauma. Ditambah satu gelombang pada akhir 2009, sakit hati gw masih ada. Hmm, sebenarnya gw bisa menyiasati gelombang itu agar gw gak frustasi. Caranya ya menikmati saja. Olah raga surfing. Hehehe. Cukup tiga gelombang terakhir yang mengendapkan gw ke dalamnya. Yang lainnya ,, gw usahakan tidak. Kalo gak begelombang, gak nikmat. Coba aja jalan tol, kalo terlalu mulus, sopir bisa ngantuk kan ? Makanya selang berapa meter ada polisi tidurnya supaya tetap sadar. Kalo sadar, tetap ingat sama TUHAN kan ,,,,,,,,,,,,,
Sabtu, 08 Oktober 2011
GURU
Pernah merasa susah hati karena profesi kita dipertanyakan dan dilecehkan ? Saya pernah merasakan itu beberapa waktu lalu dan sekarang. Hehehe , semua bermula dari status saya di Facebook.
GURU digugu dan ditiru
Beberapa waktu lalu saya berbagi video klip ost. Baywatch (itu loh, serial televisi tentang penjaga pantai di Amerika) di Facebook. Saya berpikir positif saja bahwa video itu dibuat sesuai dengan kebudayaan sana. Jadi yaa, gambar aktris Pamela Anderson yang seksi berbikini saya anggap wajar. Ehh, tak lama muncul komentar dari seorang teman guru. Dia minta saya buang video itu dengan alasan tidak pantas. Lantas saya tanggapi sambil bercanda apa yang membuat video itu tidak pantas. Dia bilang, porno. Saya balas lagi, bukankah itu kontekstual, berbikini di pantai, di Amerika pula. Dia tidak jawab lagi. Tapi segera dia update status dengan bahasa kurang lebih seperti ini "teman-teman,mohon dihapus saja video baywatchnya. Kita ini guru, digugu dan ditiru" yang tentu saja tertera di beranda Facebook saya. HUH, jujur saya sangat kecewa dengan dia. Bukan pada teguran langsungnya (berarti dia begitu terhadap muridnya, Alhamdulillah, saya nyaris tidak pernah menegur anak-anak saya seperti itu, karena bisa saja anak malu) melainkan pada kata-kata, kita ini guru, digugu dan ditiru. Saya berbagi video itu karena saya pikir ya amat wajar berbikini di pantai, mau di Amerika, mau di Indonesia. )Ang tidak wajar itu kalau berbikini di rumah makan atau di rumah sakit. Kalaupun berbikini di pantai itu tidak sesuai dengan norma budaya Indonesia ya jangan dihujat jangan diikuti. Ini pelajaran yang ingin saya sampaikan ke anak-anak saya. Bagaimana mungkin saya menerangkan sesuatu tanpa contoh kasus. Saya bernegatif thingking kepada dia, jangan-jangan saya ini dianggap tidak profesional, tidak pantas digugu dan ditiru, tidak layak menjadi GURU. Hmm, tahu apa dia tentang saya dan profesi saya ?
GURU is so relaxing yach ?
Kalimat di atas adalah kutipan kalimat dari seorang teman yang mengomentari status saya hari ini. Saya menulis status ketidaksetujuan saya terhadap rencana penambahan jam mengajar guru PNS dari 24 jam/minggu menjadi 27,5 jam/minggu meskipun saya kadang cemburu dengan guru PNS terutama di DKI Jakarta. Nah, teman saya ini, mengatakan bahwa jumlah 27,5 jam/minggu itu masih di bawah rata-rata orang kerja kantor yaitu 50 jam/minggu. Lalu kalimat terakhirnya ya subjudul saya tadi. Tentu saja, saya sebal sekali. Enak betul dia mengatakan demikian. Naif. Dia tidak tahu bahwa kami bekerja mulai dari rumah sampai rumah lagi. Dia tidak tahu bahwa kami tidak sekedar mengajar , tetapi juga mendidik. Dia tidak tahu bahwa pekerjaan kami tidak sekedar pekerjaan administratif, tetapi juga pekerjaan psikologis. Maka sebenarnya, 24 jam/minggu itu hanyalah teori karena pada praktiknya lebih dari itu. Yang kami layani adalah mahluk hidup dengan beragam karakter sehingga tak pernah cukup 24 jam bagi anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Bila ada tugas tambahan, makin beratlah beban kami. Apalagi nasib rekan-rekan kami di daerah dan pedalaman. Beban administratif, medan yang berat, tunjangan yang tak seberapa dan sering tertunda atau tak dapat sama sekali adalah santapan mereka sehari-hari. Kalau bukan karena panggilan, tak akan kami menjadi guru. Setiap keberhasilan, nama kami nyaris tak disebut, setiap ada kegagalan, nama kami disebut paling awal. Well, masihkah GURU is so relaxing yach ?
GURU digugu dan ditiru
Beberapa waktu lalu saya berbagi video klip ost. Baywatch (itu loh, serial televisi tentang penjaga pantai di Amerika) di Facebook. Saya berpikir positif saja bahwa video itu dibuat sesuai dengan kebudayaan sana. Jadi yaa, gambar aktris Pamela Anderson yang seksi berbikini saya anggap wajar. Ehh, tak lama muncul komentar dari seorang teman guru. Dia minta saya buang video itu dengan alasan tidak pantas. Lantas saya tanggapi sambil bercanda apa yang membuat video itu tidak pantas. Dia bilang, porno. Saya balas lagi, bukankah itu kontekstual, berbikini di pantai, di Amerika pula. Dia tidak jawab lagi. Tapi segera dia update status dengan bahasa kurang lebih seperti ini "teman-teman,mohon dihapus saja video baywatchnya. Kita ini guru, digugu dan ditiru" yang tentu saja tertera di beranda Facebook saya. HUH, jujur saya sangat kecewa dengan dia. Bukan pada teguran langsungnya (berarti dia begitu terhadap muridnya, Alhamdulillah, saya nyaris tidak pernah menegur anak-anak saya seperti itu, karena bisa saja anak malu) melainkan pada kata-kata, kita ini guru, digugu dan ditiru. Saya berbagi video itu karena saya pikir ya amat wajar berbikini di pantai, mau di Amerika, mau di Indonesia. )Ang tidak wajar itu kalau berbikini di rumah makan atau di rumah sakit. Kalaupun berbikini di pantai itu tidak sesuai dengan norma budaya Indonesia ya jangan dihujat jangan diikuti. Ini pelajaran yang ingin saya sampaikan ke anak-anak saya. Bagaimana mungkin saya menerangkan sesuatu tanpa contoh kasus. Saya bernegatif thingking kepada dia, jangan-jangan saya ini dianggap tidak profesional, tidak pantas digugu dan ditiru, tidak layak menjadi GURU. Hmm, tahu apa dia tentang saya dan profesi saya ?
GURU is so relaxing yach ?
Kalimat di atas adalah kutipan kalimat dari seorang teman yang mengomentari status saya hari ini. Saya menulis status ketidaksetujuan saya terhadap rencana penambahan jam mengajar guru PNS dari 24 jam/minggu menjadi 27,5 jam/minggu meskipun saya kadang cemburu dengan guru PNS terutama di DKI Jakarta. Nah, teman saya ini, mengatakan bahwa jumlah 27,5 jam/minggu itu masih di bawah rata-rata orang kerja kantor yaitu 50 jam/minggu. Lalu kalimat terakhirnya ya subjudul saya tadi. Tentu saja, saya sebal sekali. Enak betul dia mengatakan demikian. Naif. Dia tidak tahu bahwa kami bekerja mulai dari rumah sampai rumah lagi. Dia tidak tahu bahwa kami tidak sekedar mengajar , tetapi juga mendidik. Dia tidak tahu bahwa pekerjaan kami tidak sekedar pekerjaan administratif, tetapi juga pekerjaan psikologis. Maka sebenarnya, 24 jam/minggu itu hanyalah teori karena pada praktiknya lebih dari itu. Yang kami layani adalah mahluk hidup dengan beragam karakter sehingga tak pernah cukup 24 jam bagi anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Bila ada tugas tambahan, makin beratlah beban kami. Apalagi nasib rekan-rekan kami di daerah dan pedalaman. Beban administratif, medan yang berat, tunjangan yang tak seberapa dan sering tertunda atau tak dapat sama sekali adalah santapan mereka sehari-hari. Kalau bukan karena panggilan, tak akan kami menjadi guru. Setiap keberhasilan, nama kami nyaris tak disebut, setiap ada kegagalan, nama kami disebut paling awal. Well, masihkah GURU is so relaxing yach ?
SETIA
Hanya punya satu nama
Walau tujuh belas tahun berganti purnama
Tak juga sirna
Mungkin untuk selamanya
Menjadi belahan jiwa
Yang tak pernah ada
28/09/2011 8 pm ...
Langganan:
Komentar (Atom)