Putus sudah air mata pada sela-sela doa
Semoga KAU terima
16/12/11 @ 21.25
Jumat, 16 Desember 2011
Penipuan di Pusat Perbelanjaan
Weeww, judulnya serius dikit ah. Cuma mau berbagi saja sih. Sebenarnya gw gak sampai jadi korban penipuan tapi malah sebaliknya, mereka yang mencoba menipu yang gw kerjain. Hehehe. Modusnya adalah mengiming-imingi pembeli yang baru berlalu dari kasir dengan aneka produk cuma-cuma. Ibu dan tante gw pernah ditawari tapi mereka menolak jadi mereka gak terlalu ngeh modusnya. Nah, gw belom pernah tuh maka begitu suatu kali gw ditawari, gw ikuti saja dengan pura-pura lugu dari desa, gak punya hape, gak tauk alamat rumah yang didatangi, dan sedikit bicara (kalo ngomong bisa ketauan). Rata-rata model penipuannya kayak di bawah ini , baca aja ya buat jaga-jaga (emang satpam).
1. Mereka mencegat sembarang orang terutama yang baru keluar dari kasir.
2. Mereka mengatakan bahwa kita adalah orang yang beruntung terpilih mendapat hadiah cuma-cuma alias gratis dari produsen barang-barang asal Cina (biasanya) dan mengajak kita ke kantor mereka (biasanya tempatnya terpencil dan sepi tapi penuh display barang yang ditawarkan)
3. Mereka meminta identitas kita : nama, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi)
4. Mereka memberikan sebuah folder yang berisi gambar barang sambil berkata bahwa barang-barang tersebut hanya ada ketika pameran yang akan diadakan beberapa waktu mendatang. Sementara barang yang ada di display hanya contoh saja.
5. Mereka menggiring kita pada satu produk barang, seringnya paling mahal, sehingga otak kita fokus pada barang tersebut.
6. Mereka meminta kita memilih sebuah kupon undian yang hadiahnya beraneka sambil mengatakan tidak semua orang yang terpilih beruntung mendapat hadiah langsung.
7. Mereka menjelaskan isi undian itu, diawali dengan kata-kata selamat dan anda beruntung sekali berhak atas barang-barang yang tercantum di undian sambil menyerahkan barang-barang kepada kita. Kita dibuat senang hati karena mendapat barang gratisan yang harganya lumayan mahal kalau kita beli.
8. Mereka selanjutnya membacakan syarat dan ketentuan yang berlaku untuk pemilikan barang-barang itu. Biasanya sih, barang hanya bisa diambil ketika pameran dan agar kita mudah mengambilnya, kita diminta menyelesaikan administrasi pendaftaran dengan menyebutkan sejumlah angka. Di sinilah inti penipuan itu. Bila kita terbuai dengan keinginan memiliki sejumlah barang gratisan tentu kita akan menyerahkan uang kepada mereka. Toh, tidak seberapa dibandingkan harga barang yang akan kita miliki, pikir kita. Segeralah sadar, kita sudah terjebak. Mana ada gratisan tapi bayar ? Itu sama saja tidak gratis, bukan ?
Hehehe, itulah pengalaman yang bisa gw ceritain ketika mengalaminya sendiri pada Selasa, 6 Desember 2011 lalu di Pulogadung Trade Center. Rasa penasaran gw akhirnya terjawab. Rupanya modus operandi mereka kayak gitu. Mereka pintar ngomong dan baik loh. Tapi mereka langsung bete begitu gw jawab gw bawa uang 4000 ribu perak buat ongkos doang. Dengan jutek mereka bilang ke gw , " ke mal koq gak bawa duit, di rumah aja mbak kalo gitu!" Dan mereka langsung minta gw tanda tangan pembatalan hadiah. Gw tanda tangan trus gw keluar dari kantor mereka sambil nahan ketawa. Pas di luar, gw ketawa ngakak sambil tutup mulut. Emang enak gw kerjain selama lebih kurang setengah jam. Gw ngelewatin seseorang yang sempat menghampiri gw di kantor mereka. Kayaknya curiga sama gw (mungkin bosnya) karena penampilan gw gak kayak orang dari desa (gw pake jaket spalding, jam tangan baby-g, sandal jepit converse, tas batik yang banyak gantungan kunci luar negeri). Hehehe ,,, sukurin ,,, :)
1. Mereka mencegat sembarang orang terutama yang baru keluar dari kasir.
2. Mereka mengatakan bahwa kita adalah orang yang beruntung terpilih mendapat hadiah cuma-cuma alias gratis dari produsen barang-barang asal Cina (biasanya) dan mengajak kita ke kantor mereka (biasanya tempatnya terpencil dan sepi tapi penuh display barang yang ditawarkan)
3. Mereka meminta identitas kita : nama, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi)
4. Mereka memberikan sebuah folder yang berisi gambar barang sambil berkata bahwa barang-barang tersebut hanya ada ketika pameran yang akan diadakan beberapa waktu mendatang. Sementara barang yang ada di display hanya contoh saja.
5. Mereka menggiring kita pada satu produk barang, seringnya paling mahal, sehingga otak kita fokus pada barang tersebut.
6. Mereka meminta kita memilih sebuah kupon undian yang hadiahnya beraneka sambil mengatakan tidak semua orang yang terpilih beruntung mendapat hadiah langsung.
7. Mereka menjelaskan isi undian itu, diawali dengan kata-kata selamat dan anda beruntung sekali berhak atas barang-barang yang tercantum di undian sambil menyerahkan barang-barang kepada kita. Kita dibuat senang hati karena mendapat barang gratisan yang harganya lumayan mahal kalau kita beli.
8. Mereka selanjutnya membacakan syarat dan ketentuan yang berlaku untuk pemilikan barang-barang itu. Biasanya sih, barang hanya bisa diambil ketika pameran dan agar kita mudah mengambilnya, kita diminta menyelesaikan administrasi pendaftaran dengan menyebutkan sejumlah angka. Di sinilah inti penipuan itu. Bila kita terbuai dengan keinginan memiliki sejumlah barang gratisan tentu kita akan menyerahkan uang kepada mereka. Toh, tidak seberapa dibandingkan harga barang yang akan kita miliki, pikir kita. Segeralah sadar, kita sudah terjebak. Mana ada gratisan tapi bayar ? Itu sama saja tidak gratis, bukan ?
Hehehe, itulah pengalaman yang bisa gw ceritain ketika mengalaminya sendiri pada Selasa, 6 Desember 2011 lalu di Pulogadung Trade Center. Rasa penasaran gw akhirnya terjawab. Rupanya modus operandi mereka kayak gitu. Mereka pintar ngomong dan baik loh. Tapi mereka langsung bete begitu gw jawab gw bawa uang 4000 ribu perak buat ongkos doang. Dengan jutek mereka bilang ke gw , " ke mal koq gak bawa duit, di rumah aja mbak kalo gitu!" Dan mereka langsung minta gw tanda tangan pembatalan hadiah. Gw tanda tangan trus gw keluar dari kantor mereka sambil nahan ketawa. Pas di luar, gw ketawa ngakak sambil tutup mulut. Emang enak gw kerjain selama lebih kurang setengah jam. Gw ngelewatin seseorang yang sempat menghampiri gw di kantor mereka. Kayaknya curiga sama gw (mungkin bosnya) karena penampilan gw gak kayak orang dari desa (gw pake jaket spalding, jam tangan baby-g, sandal jepit converse, tas batik yang banyak gantungan kunci luar negeri). Hehehe ,,, sukurin ,,, :)
Kamis, 15 Desember 2011
Penghabisan
Malam berjingkat diam
Sepi membungkam dedaunan
Ada jari-jari bergerak pelan
Pada dzikir yang dalam
Menitik air mata
Di sudut rumah Tuhan
Yang penghabisan
15/12/11 @ 20.49
Sepi membungkam dedaunan
Ada jari-jari bergerak pelan
Pada dzikir yang dalam
Menitik air mata
Di sudut rumah Tuhan
Yang penghabisan
15/12/11 @ 20.49
Rabu, 14 Desember 2011
Pos ,,, pos ,,, saya langsung terima sampul gambar Danau Toba itu dengan ucapan terima kasih kepada pak pos yang baik hati mengantarkan surat itu kepada saya. Saya masuk kamar lalu membukanya dan membacanya.
Part 2
Hehehe seperti janji gw tempo hari ,, gw bikin seri ,, tapi gw koq malas ya ,, kayaknya ceritanya bakalan itu2 aja hehehe. Yup, apalagi kalo bukan setori si nyonya besar. Gw emang udah resign dari tempat itu tapi info tentang dia mah ada terus. Hehehe namanya juga yang jadi korban masih ada. Well, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga atau bau bangkai lama-kelamaan akan tercium juga ya yang pas buat kondisi dia sekarang ? #sambilmikir . Sekarang, temen2 udah tauk kalo slama ini dy gak beres urus keuangan ,, bukan itu aja, temen2 juga jadi tauk kalo slama ini dia bekerja dengan tujuan uang ,, gak dari hati ,,,. Awalnya karena bos merasa ada yang gak beres sama laporan keuangan dia. Trus begitu ada waktu, bos koreksi tuh laporan. Trus, bos minta bantuan orang akuntansi buat audit laporan keuangan dia. Proses selanjutnya gw gak usah cerita yaaa yang penting dia sudah menuai apa yang dia tabur selama ini. Hehehe, untung juga gw udah gak di sana karena kata temen2 gw suasana kerja di sana udah gak asik lagi. Hmm, pelajaran buat gw supaya menerima amanat dengan baik ,,, kepercayaan mahal ya cyiinn ,,, hehehe ,,, buat lo juga tuh :). Ywd, gw udah males lanjutin setori yang gitu2 aja ,,, yang penting, waktu sudah membuktikan ,,, semoga dia insaf yak ,,,
Part 2
Hehehe seperti janji gw tempo hari ,, gw bikin seri ,, tapi gw koq malas ya ,, kayaknya ceritanya bakalan itu2 aja hehehe. Yup, apalagi kalo bukan setori si nyonya besar. Gw emang udah resign dari tempat itu tapi info tentang dia mah ada terus. Hehehe namanya juga yang jadi korban masih ada. Well, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga atau bau bangkai lama-kelamaan akan tercium juga ya yang pas buat kondisi dia sekarang ? #sambilmikir . Sekarang, temen2 udah tauk kalo slama ini dy gak beres urus keuangan ,, bukan itu aja, temen2 juga jadi tauk kalo slama ini dia bekerja dengan tujuan uang ,, gak dari hati ,,,. Awalnya karena bos merasa ada yang gak beres sama laporan keuangan dia. Trus begitu ada waktu, bos koreksi tuh laporan. Trus, bos minta bantuan orang akuntansi buat audit laporan keuangan dia. Proses selanjutnya gw gak usah cerita yaaa yang penting dia sudah menuai apa yang dia tabur selama ini. Hehehe, untung juga gw udah gak di sana karena kata temen2 gw suasana kerja di sana udah gak asik lagi. Hmm, pelajaran buat gw supaya menerima amanat dengan baik ,,, kepercayaan mahal ya cyiinn ,,, hehehe ,,, buat lo juga tuh :). Ywd, gw udah males lanjutin setori yang gitu2 aja ,,, yang penting, waktu sudah membuktikan ,,, semoga dia insaf yak ,,,
Rabu, 07 Desember 2011
PERMINTAAN
Ingin terbang ke langit-Mu
Namun hanya punya satu sayap
Bahkan terluka
Akankah Kau utus malaikat 'tuk bawakan pasangannya ?
#sedanggalau ^^ 7/12/11 @ 20.55
Namun hanya punya satu sayap
Bahkan terluka
Akankah Kau utus malaikat 'tuk bawakan pasangannya ?
#sedanggalau ^^ 7/12/11 @ 20.55
Selasa, 06 Desember 2011
Titik Nadir
Nafasku terbata
Mengeja satu nama
Rasanya terlalu sarat dosa
Ampuni hamba
Duhai
SANG MAHA
Selasa, 6/12/11 @ 21.53
Mengeja satu nama
Rasanya terlalu sarat dosa
Ampuni hamba
Duhai
SANG MAHA
Selasa, 6/12/11 @ 21.53
Jumat, 02 Desember 2011
Sabar
Melakoni skenario-Nya sambil mencari makna yang tersembunyi dalam perannya
3/12/11 @ 12.45 siang
3/12/11 @ 12.45 siang
Rabu, 30 November 2011
Sabtu, 26 November 2011
Patah Hati
KAU pertemukan kami
Dan kami saling cinta
Tapi ,,,
Lalu KAU pisahkan kami
Hingga kami saling luka
Untuk apa, TUHAN ?
Dan kami saling cinta
Tapi ,,,
Lalu KAU pisahkan kami
Hingga kami saling luka
Untuk apa, TUHAN ?
Status On Facebook
Yang telah pergi tak 'kan pernah kembali biar apapun terjadi karena waktu hanya berkunjung satu kali. (26/2/11)
Ku kibarkan bendera putih untuk sebuah rasa yang tak pernah kuinginkan ada (24/2/11)
Ah, pelangi
Apakah warna indahmu hanya fatamorgana di padang sepi?
Bintang itu ,,, semakin jauh dari bumi
#bagaipunggukmerindukanbulan
Senyummu serupa musim semi : memekarkan harap usai gelap menyergap
#bilakah ,,,, (31/10/11)
Ku kibarkan bendera putih untuk sebuah rasa yang tak pernah kuinginkan ada (24/2/11)
Ah, pelangi
Apakah warna indahmu hanya fatamorgana di padang sepi?
Bintang itu ,,, semakin jauh dari bumi
#bagaipunggukmerindukanbulan
Senyummu serupa musim semi : memekarkan harap usai gelap menyergap
#bilakah ,,,, (31/10/11)
Satu Pertanyaan Untuk Tuhan
Bolehkah aku menggugat semua yang telah KAU tulis di Lauh Mahfuz ?
#selamat tahun baru 1433 Hijriah, 26/11/11
#selamat tahun baru 1433 Hijriah, 26/11/11
Selasa, 25 Oktober 2011
Status On Facebook
Jangan terbitkan cinta yang melebihi cintaku kepadaMU (5/4/10)
NamaMU kuukir pada larik senja kala langit jingga (20/4/10)
Lambungkan asaku hanya padaMU (20/4/10)
Jangan sapu rinduku yang hanya sebutir debu di kebesaranMU (17/4/10)
Tak ada tempat berpaling selain KAU (7/10)
Cukupkan cintaku padaMU maka semua akan sempurna (16/10/11)
Kecantikan dan ketampanan hanya dapat dilihat oleh mata. Keikhlasan dan kebaikan akan terlihat oleh mata dan hati ,,,,
NamaMU kuukir pada larik senja kala langit jingga (20/4/10)
Lambungkan asaku hanya padaMU (20/4/10)
Jangan sapu rinduku yang hanya sebutir debu di kebesaranMU (17/4/10)
Tak ada tempat berpaling selain KAU (7/10)
Cukupkan cintaku padaMU maka semua akan sempurna (16/10/11)
Kecantikan dan ketampanan hanya dapat dilihat oleh mata. Keikhlasan dan kebaikan akan terlihat oleh mata dan hati ,,,,
Senin, 24 Oktober 2011
Don't judge a book by its cover VS Kesan pertama menentukan
Don't judge a book by its cover
Hmm ,, jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Emang bener sih. Hehehe. Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi saja loh, nggak bisa digeneralisasikan. Yaa, kalo pun ada kesamaan itu berarti kebetulan semata. Hehehe. Saya ini termasuk orang yang sebenarnya lebih senang sendiri tapi saya punya banyak teman dan sahabat. Tiap jenjang hidup saya, ada 'genk'nya. Hehehe. Saya juga senang ikut gabung organisasi atau kelompok tertentu dengan harapan saya dapat sesuatu yang baru darinya. Dan benar sih. Dari beberapa kelompok itu saya dapat 'something new' yang malah bikin saya keluar dari kelompok karena ternyata saya sama sekali gak sreg. Hehehe. Dulu saya pernah ikut ekskul keagamaan. Saya pikir saya bisa tambah paham agama karena bersama teman-teman yang pakaiannya rapat tertutup (perempuan) dan berjenggot (lelaki) itu saya bisa belajar agama bersama. Eh, ternyata ,, cuma sedikit banget yang benar-benar menerima saya yang cuex abis ini. Yang lain? gak tuh. Akhirnya saya gak rajin-rajin lagi ikut ekskul itu. Sakit hati karena didiskriminasi. Trus, di era fb-an ini juga saya syok lagi. Ceritanya, seorang teman cowok -ehm, sumpah, saya cinta dia- men-suggest saya ikutan grup yang kesannya agamis banget. Saya bergabung dengan grup itu. So, tiap ada yang updates status tentu saya bisa tahu. Saya terkejut. Ternyata ,, baik pria maupun wanita (terutama) gak malu-malu mengungkapkan keinginan untuk mendapatkan pasangan alias keinginan menikah lewat status mereka. Padahal, saya saja malu menyatakan itu di forum meskipun forum santai harusnya mereka juga lebih punya malu yaa. Saya juga membaca komentar-komentar mereka yang buat saya "enggak banget". Komentar-komentar itu saya rasakan terlalu menghakimi seseorang sehingga seolah merekalah yang paling benar. Buat saya yang ilmu agamanya sangat dangkal, mereka itu justru membuat orang jadi jauh dari agama. Yang gak ngerti bisa makin gak ngerti karena apa-apa langsung disalahkan, dibilang dosa. Padahal urusan dosa dan gak dosa itu kan urusan Gusti Allah yaa ??? Katanya mereka paham agama, tapi koq malah tidak menunjukkan ciri agama itu sendiri -yang rahmatan lil alain, yang rahman dan rahim. Setelah satu kali saya berkomentar, saya remove dari grup itu. Saya malu menjadi bagian dari grup yang isinya orang-orang yang tak bisa mencerminkan agama mereka meskipun hanya lewat kata-kata. Memang benar sekali, kita gak boleh menilai seseorang dari tampak luarnya saja. Yang alim, yang pinter, yang aktivis ternyata masih bisa ngecengin orang atau ngomongin orang tanpa merasa bersalah. Hmmmm ....
Kesan pertama menentukan
Yang ini sih iklan sebuah pengharum badan khusus pria. Hehehe. Tapi faktanya, dalam beberapa hal ini ngaruh juga. Profesi saya sebagai guru, misalnya, membutuhkan sebuah penampilan yang menjelaskan bahwa saya ini guru sebelum orang lain melihat saya beraktivitas sebagai guru. Alhasil, saya harus pakai setelan blazer dan rambut panjang saya harus dicepol yang membuat saya terlihat bagai ibu-ibu beranak lima. Hehehe. Sukses sih , banyak orang yang memanggil saya "ibu" dan percaya kalau saya 'guru' tapi guru sd. Lhoooo ,, padahal saya ini guru smk. Jadi guru sd itu susah sekali makanya saya nggak mau jadi guru sd. Tapi, jujur saja, saya gak sreg sama tampilan itu. Saya justru mau mengubah pandangan orang kalau guru itu bisa tampil keren kayak esmud-esmud di pusat kota itu alias modis. Hehhehe. Tambahan lagi, saya malah diprotes sama anak-anak didik saya terutama anak-anak perwalian saya. Mereka lebih suka style saya yang rapi ala orang kantoran. Hehehe. Toh, dengan tampilan gaya kantoran itu sudah berhasil membuat saya diterima oleh kabag pendidikan tempat saya mengajar. Kesan pertama memang menetukan tapi selanjutnya kan terserah anda. Kesan pertama memang penting untuk menarik perhatian orang tapi kesan selanjutnya yang lebih penting. Hehehe.
Ujung-ujungnya ,, saya lebih suka pada peribahasa "Don't judge a book by its cover" tinimbang peribahasa iklan "Kesan pertama menentukan". Sebab, tampilan luar yang berkesan saat pertamna kali kita lihat tidak selalu menggambarkan isinya. Hehehe. Yang tidak setuju dengan saya yaaa nggak apa-apa. Bagus kan ??? Kalau kita punya pendapat yang berbeda ??? Yang penting saling menghargai. Beragam tapi indah seperti Gusti Allah menciptakan pelangi.
Hmm ,, jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Emang bener sih. Hehehe. Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi saja loh, nggak bisa digeneralisasikan. Yaa, kalo pun ada kesamaan itu berarti kebetulan semata. Hehehe. Saya ini termasuk orang yang sebenarnya lebih senang sendiri tapi saya punya banyak teman dan sahabat. Tiap jenjang hidup saya, ada 'genk'nya. Hehehe. Saya juga senang ikut gabung organisasi atau kelompok tertentu dengan harapan saya dapat sesuatu yang baru darinya. Dan benar sih. Dari beberapa kelompok itu saya dapat 'something new' yang malah bikin saya keluar dari kelompok karena ternyata saya sama sekali gak sreg. Hehehe. Dulu saya pernah ikut ekskul keagamaan. Saya pikir saya bisa tambah paham agama karena bersama teman-teman yang pakaiannya rapat tertutup (perempuan) dan berjenggot (lelaki) itu saya bisa belajar agama bersama. Eh, ternyata ,, cuma sedikit banget yang benar-benar menerima saya yang cuex abis ini. Yang lain? gak tuh. Akhirnya saya gak rajin-rajin lagi ikut ekskul itu. Sakit hati karena didiskriminasi. Trus, di era fb-an ini juga saya syok lagi. Ceritanya, seorang teman cowok -ehm, sumpah, saya cinta dia- men-suggest saya ikutan grup yang kesannya agamis banget. Saya bergabung dengan grup itu. So, tiap ada yang updates status tentu saya bisa tahu. Saya terkejut. Ternyata ,, baik pria maupun wanita (terutama) gak malu-malu mengungkapkan keinginan untuk mendapatkan pasangan alias keinginan menikah lewat status mereka. Padahal, saya saja malu menyatakan itu di forum meskipun forum santai harusnya mereka juga lebih punya malu yaa. Saya juga membaca komentar-komentar mereka yang buat saya "enggak banget". Komentar-komentar itu saya rasakan terlalu menghakimi seseorang sehingga seolah merekalah yang paling benar. Buat saya yang ilmu agamanya sangat dangkal, mereka itu justru membuat orang jadi jauh dari agama. Yang gak ngerti bisa makin gak ngerti karena apa-apa langsung disalahkan, dibilang dosa. Padahal urusan dosa dan gak dosa itu kan urusan Gusti Allah yaa ??? Katanya mereka paham agama, tapi koq malah tidak menunjukkan ciri agama itu sendiri -yang rahmatan lil alain, yang rahman dan rahim. Setelah satu kali saya berkomentar, saya remove dari grup itu. Saya malu menjadi bagian dari grup yang isinya orang-orang yang tak bisa mencerminkan agama mereka meskipun hanya lewat kata-kata. Memang benar sekali, kita gak boleh menilai seseorang dari tampak luarnya saja. Yang alim, yang pinter, yang aktivis ternyata masih bisa ngecengin orang atau ngomongin orang tanpa merasa bersalah. Hmmmm ....
Kesan pertama menentukan
Yang ini sih iklan sebuah pengharum badan khusus pria. Hehehe. Tapi faktanya, dalam beberapa hal ini ngaruh juga. Profesi saya sebagai guru, misalnya, membutuhkan sebuah penampilan yang menjelaskan bahwa saya ini guru sebelum orang lain melihat saya beraktivitas sebagai guru. Alhasil, saya harus pakai setelan blazer dan rambut panjang saya harus dicepol yang membuat saya terlihat bagai ibu-ibu beranak lima. Hehehe. Sukses sih , banyak orang yang memanggil saya "ibu" dan percaya kalau saya 'guru' tapi guru sd. Lhoooo ,, padahal saya ini guru smk. Jadi guru sd itu susah sekali makanya saya nggak mau jadi guru sd. Tapi, jujur saja, saya gak sreg sama tampilan itu. Saya justru mau mengubah pandangan orang kalau guru itu bisa tampil keren kayak esmud-esmud di pusat kota itu alias modis. Hehhehe. Tambahan lagi, saya malah diprotes sama anak-anak didik saya terutama anak-anak perwalian saya. Mereka lebih suka style saya yang rapi ala orang kantoran. Hehehe. Toh, dengan tampilan gaya kantoran itu sudah berhasil membuat saya diterima oleh kabag pendidikan tempat saya mengajar. Kesan pertama memang menetukan tapi selanjutnya kan terserah anda. Kesan pertama memang penting untuk menarik perhatian orang tapi kesan selanjutnya yang lebih penting. Hehehe.
Ujung-ujungnya ,, saya lebih suka pada peribahasa "Don't judge a book by its cover" tinimbang peribahasa iklan "Kesan pertama menentukan". Sebab, tampilan luar yang berkesan saat pertamna kali kita lihat tidak selalu menggambarkan isinya. Hehehe. Yang tidak setuju dengan saya yaaa nggak apa-apa. Bagus kan ??? Kalau kita punya pendapat yang berbeda ??? Yang penting saling menghargai. Beragam tapi indah seperti Gusti Allah menciptakan pelangi.
Senin, 17 Oktober 2011
LIFE IS NEVER FLAT
Tagline sebuah produk keripik kentang ini memang pas bener buat menggambarkan hidup manusia khususnya gw. Hehehe. Gw kira hidup gw bakal mulus aja kayak jalan tol. Segala lancar, rutin, bahkan membosankan, bikin gw 'ngantuk'!!! Hehehe. Mungkin karena ngeliat gw keenakan kayak gitu, TUHAN bangunin gw. Gelombang pertama gw temui saat gw kelas dua sma.
Tahun ajaran 93-94 gw masuk jurusan fisik setelah bikin perjanjian sama guru BP gw. Hehehe. Itu terjadi karena minat gw gak seiring dengan hasil tes psikologi gw sebagai dasar penjurusan kelas dua dan tiga. Aslinya gw pengen banget masuk jurusan bahasa eh hasil tes menunjukkan kalo kemampuan gw lebih ke jurusan fisika. Nggak ada pilihan biologi atau sosial apalagi bahasa. Dari empat kotak jurusan, cuma ilmu-ilmu fisik aja yang dicentang. Huh, nyebelin banget. Gw ngerayu nyokap supaya mindahin gw ke sma lain yang ada jurusan bahasanya tapi nyokap dengan senang hati menolak dengan alasan temen-temen gw sejak sd berada di sma yang sama. Gw tetap tulis jurusan bahasa di formulir penjurusan. Lalu gw dipanggil sama guru BP. Beliau menyarankan gw buat ambil jurusan sosial kalo memang gw gak mau masuk jurusan fisika. Gw gak mau karena gw pikir pelajaran di jurusan sosial susah. Antropologi, sosiologi, akuntansi ,, uhh, pasti njelimet. Guru BP gw mati gaya -gw rasa- terhadap kekeuh sumekeuhnya gw. Akhirnya beliau tanya apa maunya gw. Ya udah, gw bilang aja, gw masuk fisika tapi kalo satu semester nilai gw jelek ya gw keluar dari sekolah. Beliau tanya lagi , kalo nilai bagus gimana ? Ya, terpaksa gw lanjutin. Deal. Akhirnya gw masuk fisika. Satu semester berlalu dengan keikhlasan belajar cuma 10 %, cuma buat pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pas pembagian rapor bayangan dan rapor beneran, nilai gw gak jelek-jelek amat. Masihlah di dalam urutan 15 besar dari 48 siswa. Huhhhhh. Gw harus tetep di kelas ini. Temen-temen di kelas gw sih asik, dan alim, dan pinter. Tapi gw gak nyaman. Kimia, fisika, dan matematika adalah pelajaran paling menyebalkan yang harus gw santap tiap hari. Wali kelas gw kebetulan guru matematika. Alhasil, kalo ada guru yang gak masuk, beliau dengan senang hati menggantinya dengan matematika. Pernah seharian pelajaran kelas gw math only. Tinggal gw yang muntah. Hehehe. Nah, karena gak ikhlas belajar itulah hidup gw mendapat gelombang pertama saat kenaikan kelas dua ke kelas tiga. Gw dapat nilai lima di rapor buat pelajaran kimia. Nilai terburuk sepanjang persekolahan gw. Wali kelas gw gak percaya bilang ke nyokap sambil tanya apa gw ada masalah di rumah. Nyokap gw juga gak percaya apalagi liat urutan nilai gw ada di angka 21. Asli, pas sampai di rumah, gw nangis sejadi-jadinya. Malu banget. Sampai gw gak keluar kamar seharian. Nyokap sih gak masalah. Doi cuek aja, doi cuma bilang ya udah belajar lagi yang bener dan doi nyuruh gw tetep dateng ke acara makan bersama di rumah temen sekelas gw. Padahal gw lagi malu banget tuh. Teman-teman sekelas juga gak percaya gw bisa dapat nilai lima di rapor. Ya, udahlah ,, mau gimana lagi. Belajar lagi yang bener dalam pelajaran kimia.
Udah terlanjur di kelas fisika. Malu gw terbayar karena di kelas tiga nilai gw naik lagi. Wali kelas gw, lagi-lagi guru matematika, bilang ke nyokap kalo beliau surprised dengan nilai gw yang melesat. Dari urutan 21 menjadi 10 besar. Nyokap seperti biasa, cuex dan santai, doi bilang mungkin gw malu karena seumur-umur gak pernah dapet nilai merah. Semester berikutnya nilai gw naik lagi masuk 5 besar. Nilai ujian gw juga gak jelek-jelek amat. Well, gw mungkin masih dapet nilai pas-pasan kalo gw gak dapat gelombang pertama yaa .
Gelombang kedua gw lalui saat gw di bangku kuliah tahun terakhir sekitar 2001. Berapa kali gw mengajukan judul skripsi selalu ditolak oleh dosen koordinator skripsi yang kebetulan sekali beliau PA gw dan tahu sekali nilai-nilai kuliah gw. Begitu judul terakhir gw udah pasrah. Kali ini skripsi gw kuantitatif ada hitungan statistik yang agak ribet. Eh, malah diterima. Ya udah, mulai menulislah gw. Tapi, penulisan itu tersendat karena di kurun waktu yang sama , nyokap gw sakit dan harus dirawat di rumah sakit cukup lama dan berkali-kali. Gelombang ini gw rasa lebih besar dan lebih lama daripada gelombang yang gw rasa tahun 1994. Gw nyaris putus asa. Gw males lanjutin kuliah yang sudah sampai skripsi. Gw pikir, gak papa deh gak kelar kuliah asal gw bisa ngurusin nyokap gw. Gw satu-satunya anak perempuan di rumah jadi yang bisa maksimal urusin nyokap ya cuma gw. Tapi nyokap gw pengen banget anaknya lulus. Karena lama gak konsultasi ke dosen pembimbing, dosen gw sempat lupa ma gw dan tulisan gw. Syukurlah, dosen-dosen muda gw menyemangati gw dan membantu melancarkan proses ujian. Gw udah gak peduli lagi sama hasilnya. Yang penting saat itu gw lulus. Gw dapet nilai B padahal dosen gw bilang gw dapat A. Biarlah. Gw diwisuda ditemenin bokap karena kondisi nyokap yang harus pake kursi roda bikin nyokap gak nyaman kalo ikut wisuda. Apalagi di kampus gw wisudanya di lapangan depan perpustakaan. Setelah wisuda gw konsen rawat nyokap yang sakitnya makin parah. Gw akui, pernah sekali gw merasa kesal sama nyokap gara-gara sarapan. Antara kesal dan menyesal gw nangis sambil bikinin mi goreng buat nyokap. Tapi setelah itu gw santai. Sejak kecil gw diurus nyokap, skarang apa salahnya gantian gw yang urus nyokap dan urus keluarga. Gw bisa masak, gw bisa suntik insulin, gw bisa ganti perban kalo ada luka di tubuh nyokap, gw bisa ganti infus, gw bisa ngatur gaji bokap buat bayar perawat. Tawaran mengajar gw tolak karena gw gak mw kehilangan momen sama nyokap. Sampai ....
15 Januari 2004. Gelombang tertinggi dan terdasyat yang menghempaskan hidup gw sampai sekarang masih terasa sakitnya. Nyokap gw menghadap TUHANnya jam 3.15 pagi. Waktu itu gw bangun buat ganti infus. Nyokap yang tidur di sebelah gw lagi ditungguin bokap. Adek-adek gw baru masuk kamar masing-masing. Gw memang minta mereka temenin nyokap selama gw tidur meskipun gw tidur sejam. Bokap masuk kamar setelah gw bangun. Gw pandangi nyokap. Entah mengapa, jantung gw berdebar gak menentu. Gw panggil adek-adek gw dan sodara gw yang tidur di kamar. Gw minta mereka baca surat Yassin. Gw duduk di sebelah nyokap dan adek-adek gw di depan nyokap. Gw bisikin kalimat syahadat. Sampai sebuah tarikan nafas panjang,,, nyokap menutup mata. Gw merasa inilah saatnya. Gw mengucap innalillahi ... dan gw bilang ke nyokap, "kalo mau pergi, pergi aja, mak .. Eko ikhlas" setelah itu dalam pendengaran gw, ada suara gagak lewat atas rumah. Adek-adek gw nangis dan bokap keluar kamar tanpa lihat nyokap pergi. Kata orang jawa 'nyimpe'ke' Tapi gw kan harus berpikir logis, meski gak yakin, gw telpon nyokapnya temen gw yang perawat. Gw masih mau bawa nyokap ke rumah sakit tapi agak susah, gw hubungi perawat nyokap susah juga. Adek gw gw minta ke klinik 24 jam untuk panggil dokter untuk memastikan. Karena gak ada, gw minta bokap dan adek gw jemput perawat. Perawat gw memastikan bahwa nyokap udah pergi. Gw gak tauk harus sedih atau senang. Yang gw pikir adalah TUHAN selalu tahu yang terbaik buat nyokap gw. Nyokap gw dimakamkan di pemakaman kampung bokap gw. Eyang kakung dari garis bokap yang minta nyokap disemayamkan dan dimakamkan di sama.
Sejak saat itu, gelombang hidup gw rasanya makin banyak. Dua gelombang sesaat setelah kepergian nyokap ke rumah TUHAN masih bikin gw trauma. Ditambah satu gelombang pada akhir 2009, sakit hati gw masih ada. Hmm, sebenarnya gw bisa menyiasati gelombang itu agar gw gak frustasi. Caranya ya menikmati saja. Olah raga surfing. Hehehe. Cukup tiga gelombang terakhir yang mengendapkan gw ke dalamnya. Yang lainnya ,, gw usahakan tidak. Kalo gak begelombang, gak nikmat. Coba aja jalan tol, kalo terlalu mulus, sopir bisa ngantuk kan ? Makanya selang berapa meter ada polisi tidurnya supaya tetap sadar. Kalo sadar, tetap ingat sama TUHAN kan ,,,,,,,,,,,,,
Tahun ajaran 93-94 gw masuk jurusan fisik setelah bikin perjanjian sama guru BP gw. Hehehe. Itu terjadi karena minat gw gak seiring dengan hasil tes psikologi gw sebagai dasar penjurusan kelas dua dan tiga. Aslinya gw pengen banget masuk jurusan bahasa eh hasil tes menunjukkan kalo kemampuan gw lebih ke jurusan fisika. Nggak ada pilihan biologi atau sosial apalagi bahasa. Dari empat kotak jurusan, cuma ilmu-ilmu fisik aja yang dicentang. Huh, nyebelin banget. Gw ngerayu nyokap supaya mindahin gw ke sma lain yang ada jurusan bahasanya tapi nyokap dengan senang hati menolak dengan alasan temen-temen gw sejak sd berada di sma yang sama. Gw tetap tulis jurusan bahasa di formulir penjurusan. Lalu gw dipanggil sama guru BP. Beliau menyarankan gw buat ambil jurusan sosial kalo memang gw gak mau masuk jurusan fisika. Gw gak mau karena gw pikir pelajaran di jurusan sosial susah. Antropologi, sosiologi, akuntansi ,, uhh, pasti njelimet. Guru BP gw mati gaya -gw rasa- terhadap kekeuh sumekeuhnya gw. Akhirnya beliau tanya apa maunya gw. Ya udah, gw bilang aja, gw masuk fisika tapi kalo satu semester nilai gw jelek ya gw keluar dari sekolah. Beliau tanya lagi , kalo nilai bagus gimana ? Ya, terpaksa gw lanjutin. Deal. Akhirnya gw masuk fisika. Satu semester berlalu dengan keikhlasan belajar cuma 10 %, cuma buat pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pas pembagian rapor bayangan dan rapor beneran, nilai gw gak jelek-jelek amat. Masihlah di dalam urutan 15 besar dari 48 siswa. Huhhhhh. Gw harus tetep di kelas ini. Temen-temen di kelas gw sih asik, dan alim, dan pinter. Tapi gw gak nyaman. Kimia, fisika, dan matematika adalah pelajaran paling menyebalkan yang harus gw santap tiap hari. Wali kelas gw kebetulan guru matematika. Alhasil, kalo ada guru yang gak masuk, beliau dengan senang hati menggantinya dengan matematika. Pernah seharian pelajaran kelas gw math only. Tinggal gw yang muntah. Hehehe. Nah, karena gak ikhlas belajar itulah hidup gw mendapat gelombang pertama saat kenaikan kelas dua ke kelas tiga. Gw dapat nilai lima di rapor buat pelajaran kimia. Nilai terburuk sepanjang persekolahan gw. Wali kelas gw gak percaya bilang ke nyokap sambil tanya apa gw ada masalah di rumah. Nyokap gw juga gak percaya apalagi liat urutan nilai gw ada di angka 21. Asli, pas sampai di rumah, gw nangis sejadi-jadinya. Malu banget. Sampai gw gak keluar kamar seharian. Nyokap sih gak masalah. Doi cuek aja, doi cuma bilang ya udah belajar lagi yang bener dan doi nyuruh gw tetep dateng ke acara makan bersama di rumah temen sekelas gw. Padahal gw lagi malu banget tuh. Teman-teman sekelas juga gak percaya gw bisa dapat nilai lima di rapor. Ya, udahlah ,, mau gimana lagi. Belajar lagi yang bener dalam pelajaran kimia.
Udah terlanjur di kelas fisika. Malu gw terbayar karena di kelas tiga nilai gw naik lagi. Wali kelas gw, lagi-lagi guru matematika, bilang ke nyokap kalo beliau surprised dengan nilai gw yang melesat. Dari urutan 21 menjadi 10 besar. Nyokap seperti biasa, cuex dan santai, doi bilang mungkin gw malu karena seumur-umur gak pernah dapet nilai merah. Semester berikutnya nilai gw naik lagi masuk 5 besar. Nilai ujian gw juga gak jelek-jelek amat. Well, gw mungkin masih dapet nilai pas-pasan kalo gw gak dapat gelombang pertama yaa .
Gelombang kedua gw lalui saat gw di bangku kuliah tahun terakhir sekitar 2001. Berapa kali gw mengajukan judul skripsi selalu ditolak oleh dosen koordinator skripsi yang kebetulan sekali beliau PA gw dan tahu sekali nilai-nilai kuliah gw. Begitu judul terakhir gw udah pasrah. Kali ini skripsi gw kuantitatif ada hitungan statistik yang agak ribet. Eh, malah diterima. Ya udah, mulai menulislah gw. Tapi, penulisan itu tersendat karena di kurun waktu yang sama , nyokap gw sakit dan harus dirawat di rumah sakit cukup lama dan berkali-kali. Gelombang ini gw rasa lebih besar dan lebih lama daripada gelombang yang gw rasa tahun 1994. Gw nyaris putus asa. Gw males lanjutin kuliah yang sudah sampai skripsi. Gw pikir, gak papa deh gak kelar kuliah asal gw bisa ngurusin nyokap gw. Gw satu-satunya anak perempuan di rumah jadi yang bisa maksimal urusin nyokap ya cuma gw. Tapi nyokap gw pengen banget anaknya lulus. Karena lama gak konsultasi ke dosen pembimbing, dosen gw sempat lupa ma gw dan tulisan gw. Syukurlah, dosen-dosen muda gw menyemangati gw dan membantu melancarkan proses ujian. Gw udah gak peduli lagi sama hasilnya. Yang penting saat itu gw lulus. Gw dapet nilai B padahal dosen gw bilang gw dapat A. Biarlah. Gw diwisuda ditemenin bokap karena kondisi nyokap yang harus pake kursi roda bikin nyokap gak nyaman kalo ikut wisuda. Apalagi di kampus gw wisudanya di lapangan depan perpustakaan. Setelah wisuda gw konsen rawat nyokap yang sakitnya makin parah. Gw akui, pernah sekali gw merasa kesal sama nyokap gara-gara sarapan. Antara kesal dan menyesal gw nangis sambil bikinin mi goreng buat nyokap. Tapi setelah itu gw santai. Sejak kecil gw diurus nyokap, skarang apa salahnya gantian gw yang urus nyokap dan urus keluarga. Gw bisa masak, gw bisa suntik insulin, gw bisa ganti perban kalo ada luka di tubuh nyokap, gw bisa ganti infus, gw bisa ngatur gaji bokap buat bayar perawat. Tawaran mengajar gw tolak karena gw gak mw kehilangan momen sama nyokap. Sampai ....
15 Januari 2004. Gelombang tertinggi dan terdasyat yang menghempaskan hidup gw sampai sekarang masih terasa sakitnya. Nyokap gw menghadap TUHANnya jam 3.15 pagi. Waktu itu gw bangun buat ganti infus. Nyokap yang tidur di sebelah gw lagi ditungguin bokap. Adek-adek gw baru masuk kamar masing-masing. Gw memang minta mereka temenin nyokap selama gw tidur meskipun gw tidur sejam. Bokap masuk kamar setelah gw bangun. Gw pandangi nyokap. Entah mengapa, jantung gw berdebar gak menentu. Gw panggil adek-adek gw dan sodara gw yang tidur di kamar. Gw minta mereka baca surat Yassin. Gw duduk di sebelah nyokap dan adek-adek gw di depan nyokap. Gw bisikin kalimat syahadat. Sampai sebuah tarikan nafas panjang,,, nyokap menutup mata. Gw merasa inilah saatnya. Gw mengucap innalillahi ... dan gw bilang ke nyokap, "kalo mau pergi, pergi aja, mak .. Eko ikhlas" setelah itu dalam pendengaran gw, ada suara gagak lewat atas rumah. Adek-adek gw nangis dan bokap keluar kamar tanpa lihat nyokap pergi. Kata orang jawa 'nyimpe'ke' Tapi gw kan harus berpikir logis, meski gak yakin, gw telpon nyokapnya temen gw yang perawat. Gw masih mau bawa nyokap ke rumah sakit tapi agak susah, gw hubungi perawat nyokap susah juga. Adek gw gw minta ke klinik 24 jam untuk panggil dokter untuk memastikan. Karena gak ada, gw minta bokap dan adek gw jemput perawat. Perawat gw memastikan bahwa nyokap udah pergi. Gw gak tauk harus sedih atau senang. Yang gw pikir adalah TUHAN selalu tahu yang terbaik buat nyokap gw. Nyokap gw dimakamkan di pemakaman kampung bokap gw. Eyang kakung dari garis bokap yang minta nyokap disemayamkan dan dimakamkan di sama.
Sejak saat itu, gelombang hidup gw rasanya makin banyak. Dua gelombang sesaat setelah kepergian nyokap ke rumah TUHAN masih bikin gw trauma. Ditambah satu gelombang pada akhir 2009, sakit hati gw masih ada. Hmm, sebenarnya gw bisa menyiasati gelombang itu agar gw gak frustasi. Caranya ya menikmati saja. Olah raga surfing. Hehehe. Cukup tiga gelombang terakhir yang mengendapkan gw ke dalamnya. Yang lainnya ,, gw usahakan tidak. Kalo gak begelombang, gak nikmat. Coba aja jalan tol, kalo terlalu mulus, sopir bisa ngantuk kan ? Makanya selang berapa meter ada polisi tidurnya supaya tetap sadar. Kalo sadar, tetap ingat sama TUHAN kan ,,,,,,,,,,,,,
Sabtu, 08 Oktober 2011
GURU
Pernah merasa susah hati karena profesi kita dipertanyakan dan dilecehkan ? Saya pernah merasakan itu beberapa waktu lalu dan sekarang. Hehehe , semua bermula dari status saya di Facebook.
GURU digugu dan ditiru
Beberapa waktu lalu saya berbagi video klip ost. Baywatch (itu loh, serial televisi tentang penjaga pantai di Amerika) di Facebook. Saya berpikir positif saja bahwa video itu dibuat sesuai dengan kebudayaan sana. Jadi yaa, gambar aktris Pamela Anderson yang seksi berbikini saya anggap wajar. Ehh, tak lama muncul komentar dari seorang teman guru. Dia minta saya buang video itu dengan alasan tidak pantas. Lantas saya tanggapi sambil bercanda apa yang membuat video itu tidak pantas. Dia bilang, porno. Saya balas lagi, bukankah itu kontekstual, berbikini di pantai, di Amerika pula. Dia tidak jawab lagi. Tapi segera dia update status dengan bahasa kurang lebih seperti ini "teman-teman,mohon dihapus saja video baywatchnya. Kita ini guru, digugu dan ditiru" yang tentu saja tertera di beranda Facebook saya. HUH, jujur saya sangat kecewa dengan dia. Bukan pada teguran langsungnya (berarti dia begitu terhadap muridnya, Alhamdulillah, saya nyaris tidak pernah menegur anak-anak saya seperti itu, karena bisa saja anak malu) melainkan pada kata-kata, kita ini guru, digugu dan ditiru. Saya berbagi video itu karena saya pikir ya amat wajar berbikini di pantai, mau di Amerika, mau di Indonesia. )Ang tidak wajar itu kalau berbikini di rumah makan atau di rumah sakit. Kalaupun berbikini di pantai itu tidak sesuai dengan norma budaya Indonesia ya jangan dihujat jangan diikuti. Ini pelajaran yang ingin saya sampaikan ke anak-anak saya. Bagaimana mungkin saya menerangkan sesuatu tanpa contoh kasus. Saya bernegatif thingking kepada dia, jangan-jangan saya ini dianggap tidak profesional, tidak pantas digugu dan ditiru, tidak layak menjadi GURU. Hmm, tahu apa dia tentang saya dan profesi saya ?
GURU is so relaxing yach ?
Kalimat di atas adalah kutipan kalimat dari seorang teman yang mengomentari status saya hari ini. Saya menulis status ketidaksetujuan saya terhadap rencana penambahan jam mengajar guru PNS dari 24 jam/minggu menjadi 27,5 jam/minggu meskipun saya kadang cemburu dengan guru PNS terutama di DKI Jakarta. Nah, teman saya ini, mengatakan bahwa jumlah 27,5 jam/minggu itu masih di bawah rata-rata orang kerja kantor yaitu 50 jam/minggu. Lalu kalimat terakhirnya ya subjudul saya tadi. Tentu saja, saya sebal sekali. Enak betul dia mengatakan demikian. Naif. Dia tidak tahu bahwa kami bekerja mulai dari rumah sampai rumah lagi. Dia tidak tahu bahwa kami tidak sekedar mengajar , tetapi juga mendidik. Dia tidak tahu bahwa pekerjaan kami tidak sekedar pekerjaan administratif, tetapi juga pekerjaan psikologis. Maka sebenarnya, 24 jam/minggu itu hanyalah teori karena pada praktiknya lebih dari itu. Yang kami layani adalah mahluk hidup dengan beragam karakter sehingga tak pernah cukup 24 jam bagi anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Bila ada tugas tambahan, makin beratlah beban kami. Apalagi nasib rekan-rekan kami di daerah dan pedalaman. Beban administratif, medan yang berat, tunjangan yang tak seberapa dan sering tertunda atau tak dapat sama sekali adalah santapan mereka sehari-hari. Kalau bukan karena panggilan, tak akan kami menjadi guru. Setiap keberhasilan, nama kami nyaris tak disebut, setiap ada kegagalan, nama kami disebut paling awal. Well, masihkah GURU is so relaxing yach ?
GURU digugu dan ditiru
Beberapa waktu lalu saya berbagi video klip ost. Baywatch (itu loh, serial televisi tentang penjaga pantai di Amerika) di Facebook. Saya berpikir positif saja bahwa video itu dibuat sesuai dengan kebudayaan sana. Jadi yaa, gambar aktris Pamela Anderson yang seksi berbikini saya anggap wajar. Ehh, tak lama muncul komentar dari seorang teman guru. Dia minta saya buang video itu dengan alasan tidak pantas. Lantas saya tanggapi sambil bercanda apa yang membuat video itu tidak pantas. Dia bilang, porno. Saya balas lagi, bukankah itu kontekstual, berbikini di pantai, di Amerika pula. Dia tidak jawab lagi. Tapi segera dia update status dengan bahasa kurang lebih seperti ini "teman-teman,mohon dihapus saja video baywatchnya. Kita ini guru, digugu dan ditiru" yang tentu saja tertera di beranda Facebook saya. HUH, jujur saya sangat kecewa dengan dia. Bukan pada teguran langsungnya (berarti dia begitu terhadap muridnya, Alhamdulillah, saya nyaris tidak pernah menegur anak-anak saya seperti itu, karena bisa saja anak malu) melainkan pada kata-kata, kita ini guru, digugu dan ditiru. Saya berbagi video itu karena saya pikir ya amat wajar berbikini di pantai, mau di Amerika, mau di Indonesia. )Ang tidak wajar itu kalau berbikini di rumah makan atau di rumah sakit. Kalaupun berbikini di pantai itu tidak sesuai dengan norma budaya Indonesia ya jangan dihujat jangan diikuti. Ini pelajaran yang ingin saya sampaikan ke anak-anak saya. Bagaimana mungkin saya menerangkan sesuatu tanpa contoh kasus. Saya bernegatif thingking kepada dia, jangan-jangan saya ini dianggap tidak profesional, tidak pantas digugu dan ditiru, tidak layak menjadi GURU. Hmm, tahu apa dia tentang saya dan profesi saya ?
GURU is so relaxing yach ?
Kalimat di atas adalah kutipan kalimat dari seorang teman yang mengomentari status saya hari ini. Saya menulis status ketidaksetujuan saya terhadap rencana penambahan jam mengajar guru PNS dari 24 jam/minggu menjadi 27,5 jam/minggu meskipun saya kadang cemburu dengan guru PNS terutama di DKI Jakarta. Nah, teman saya ini, mengatakan bahwa jumlah 27,5 jam/minggu itu masih di bawah rata-rata orang kerja kantor yaitu 50 jam/minggu. Lalu kalimat terakhirnya ya subjudul saya tadi. Tentu saja, saya sebal sekali. Enak betul dia mengatakan demikian. Naif. Dia tidak tahu bahwa kami bekerja mulai dari rumah sampai rumah lagi. Dia tidak tahu bahwa kami tidak sekedar mengajar , tetapi juga mendidik. Dia tidak tahu bahwa pekerjaan kami tidak sekedar pekerjaan administratif, tetapi juga pekerjaan psikologis. Maka sebenarnya, 24 jam/minggu itu hanyalah teori karena pada praktiknya lebih dari itu. Yang kami layani adalah mahluk hidup dengan beragam karakter sehingga tak pernah cukup 24 jam bagi anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Bila ada tugas tambahan, makin beratlah beban kami. Apalagi nasib rekan-rekan kami di daerah dan pedalaman. Beban administratif, medan yang berat, tunjangan yang tak seberapa dan sering tertunda atau tak dapat sama sekali adalah santapan mereka sehari-hari. Kalau bukan karena panggilan, tak akan kami menjadi guru. Setiap keberhasilan, nama kami nyaris tak disebut, setiap ada kegagalan, nama kami disebut paling awal. Well, masihkah GURU is so relaxing yach ?
SETIA
Hanya punya satu nama
Walau tujuh belas tahun berganti purnama
Tak juga sirna
Mungkin untuk selamanya
Menjadi belahan jiwa
Yang tak pernah ada
28/09/2011 8 pm ...
Kamis, 25 Agustus 2011
Bersyukur
Kadang (atau malah sering) gw gak bersyukur atas apa yang ALLAH berikan pada gw. Padahal, di Al-Quran disebutkan bahwa manusia itu mestinya bersyukur atas segala nikmat dan pasti nikmat itu akan ditambah-Nya dan kalo gak bersyukur, sesungguhnya azab-Nya sangat pedih. Tapiii ,, gw koq masih suka bandel. Payah yaaa ,, eh, tapi gw tetep berusaha bersyukur koq ,, dengan cara gw pastinya ,, ^^ Dan soal bersyukur ini, gw punya pengalaman yang masih bikin gw nangis terharu (ciee,,) tiap mengingatnya. Ceritanya begini :
Hari masih panas padahal udah jarum jam udah di angka 5-an. Matahari kayaknya masih ramah banget. Gw masih menenteng botol kosong Nu Green tea yang gw habiskan isinya di perjalanan seperti kebiasaan gw. Gw jalan agak santai sambil sedikit menggerutu soal nasib gw yang -menurut gw sih- naas banget. Hehehe . Di pinggir jalan ada gerobak asongan berdiri dengan manisnya. Hehehe. Isinya macem2 barang bekas kayak kardus dan besi rongsok. Didinding gerobaknya tergantung sebuah karung beras dari plastik. Gw berhenti sebentar di sebelah gerobak itu. Gw celingak-celinguk gak ada yang punya. Ya udah, gw taruh deh botol kosong gw ke dalam gerobak itu. Bomat deh, gw gak tauk tempat barang plastiknya di mana. Eh, begitu botol gw mendarat, muncul seorang bapak agak tua di depan gw. Asli, gw gak tauk dari mana beliau. Yang nambah gw kaget dan kemudian terharu sangat adalah ketika bapak itu dengan berbungkuk-bungkuk bilang "Alhamdulillah,terima kasih mbak" berulang-ulang. Gw tertegun sebentar sebelum kemudian jawab "sama2 Pak" sambil nyengir tersindir dalam hati (padahal gw tauk beliau gak bermaksud menyindir gw, gw aja yang ngerasa). Gw jalan lagi. Dalam hati gw ngomong " Ya ALLAH, untuk sebuah botol bekas yang gw cemplungin ke gerobaknya, bapak itu amat senang, bersyukur pada Engkau dan berterima kasih pada gw seolah beliau mendapat hadiah istimewa. Sementara gw ? Gw sering mengeluh atas hal2 yang menurut gw menyebalkan dan males bersyukur. Astaghfirullah, ampuni aku ya ALLAH." Sumpah, pengalaman itu selalu gw ingat. Seharusnyalah qt bersyukur atas apapun pemberian-Nya, sebesar apapun. Well, terima kasih Pak Tua . :)
Hari masih panas padahal udah jarum jam udah di angka 5-an. Matahari kayaknya masih ramah banget. Gw masih menenteng botol kosong Nu Green tea yang gw habiskan isinya di perjalanan seperti kebiasaan gw. Gw jalan agak santai sambil sedikit menggerutu soal nasib gw yang -menurut gw sih- naas banget. Hehehe . Di pinggir jalan ada gerobak asongan berdiri dengan manisnya. Hehehe. Isinya macem2 barang bekas kayak kardus dan besi rongsok. Didinding gerobaknya tergantung sebuah karung beras dari plastik. Gw berhenti sebentar di sebelah gerobak itu. Gw celingak-celinguk gak ada yang punya. Ya udah, gw taruh deh botol kosong gw ke dalam gerobak itu. Bomat deh, gw gak tauk tempat barang plastiknya di mana. Eh, begitu botol gw mendarat, muncul seorang bapak agak tua di depan gw. Asli, gw gak tauk dari mana beliau. Yang nambah gw kaget dan kemudian terharu sangat adalah ketika bapak itu dengan berbungkuk-bungkuk bilang "Alhamdulillah,terima kasih mbak" berulang-ulang. Gw tertegun sebentar sebelum kemudian jawab "sama2 Pak" sambil nyengir tersindir dalam hati (padahal gw tauk beliau gak bermaksud menyindir gw, gw aja yang ngerasa). Gw jalan lagi. Dalam hati gw ngomong " Ya ALLAH, untuk sebuah botol bekas yang gw cemplungin ke gerobaknya, bapak itu amat senang, bersyukur pada Engkau dan berterima kasih pada gw seolah beliau mendapat hadiah istimewa. Sementara gw ? Gw sering mengeluh atas hal2 yang menurut gw menyebalkan dan males bersyukur. Astaghfirullah, ampuni aku ya ALLAH." Sumpah, pengalaman itu selalu gw ingat. Seharusnyalah qt bersyukur atas apapun pemberian-Nya, sebesar apapun. Well, terima kasih Pak Tua . :)
Selasa, 23 Agustus 2011
Jejaring Sosial oohhh Jejaring Sosial
FB-an,twitter-an,YM-an,BBM-an, dan jejaring sosial-an yang lain bener2 gak terpisahkan lagi dari hidup manusia modern (katanya). Dari melek mata sampai mau merem mata, gak lepas hp atau bb dari tangan. Yang menggunakan pc juga online terus. Entah buat sekedar buat baca2 status orang atau niat buat update status biar dibilang eksis (kata lagunya Saykoji). Yang di-update pun beragam. Bisa menu makan,posisi,pasang foto,atau siar isi hati. Siar isi hati juga bermacam2 gaya : numpang lewat,kata bijak,dan marah2.Belum lagi jualan, well, Udah kayak itc hehehehe. SALAH ?
Gak ada yang salah sama jejaring sosial.Yang salah adalah kalo qt gak bisa memanfaatkan jejaring sosial tersebut dengan bijaksana. Hehehe, curhat masalah rumah tangga atau saling sindir jelas enggak banget. Jejaring sosial kan diciptakan buat memudahkan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Lha, kalo rahasia dan marah bukan bentuk komunikasi yang baik kan ??? Yang BENER bagaimana ?
Yang asik nih ,, jejaring sosial bisa menjadi alat menghimpun kekuatan masyarakat. People power bahasa Inggrisnya. Banyak hal yang dihasilkan lewat jejaring sosial seperti gerakan penggalangan dana atau pendukung sesuatu yang positif.
JADI kesimpulannya apa ? Bikin sendiri saja. Udah malas nulis lagi. Karena nulisnya pake keyboard hp hehehehe :)
Gak ada yang salah sama jejaring sosial.Yang salah adalah kalo qt gak bisa memanfaatkan jejaring sosial tersebut dengan bijaksana. Hehehe, curhat masalah rumah tangga atau saling sindir jelas enggak banget. Jejaring sosial kan diciptakan buat memudahkan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Lha, kalo rahasia dan marah bukan bentuk komunikasi yang baik kan ??? Yang BENER bagaimana ?
Yang asik nih ,, jejaring sosial bisa menjadi alat menghimpun kekuatan masyarakat. People power bahasa Inggrisnya. Banyak hal yang dihasilkan lewat jejaring sosial seperti gerakan penggalangan dana atau pendukung sesuatu yang positif.
JADI kesimpulannya apa ? Bikin sendiri saja. Udah malas nulis lagi. Karena nulisnya pake keyboard hp hehehehe :)
Minggu, 21 Agustus 2011
Lailatul Qadar
Bumi mengheningkan cipta
Serentak sebentang tak bersuara
Semua seperti bisu
Bertasbih dengan khusyu
Tunduk pada DZAT yang Maha Satu
TUHAN
Kami sebut nama-MU tanpa ragu
09.10 pm 27 Nov 2002 (edit)
* dalam malam-malam yang lebih baik daripada 1000 bulan
Serentak sebentang tak bersuara
Semua seperti bisu
Bertasbih dengan khusyu
Tunduk pada DZAT yang Maha Satu
TUHAN
Kami sebut nama-MU tanpa ragu
09.10 pm 27 Nov 2002 (edit)
* dalam malam-malam yang lebih baik daripada 1000 bulan
Sabtu, 20 Agustus 2011
Hari masih pagi waktu saya santai. Tiba2 ada suara "pos..pos" dari luar rumah. Saya buru2 keluar. Tumben tanggal segini ada surat, pikir saya. Ehh, ternyata surat ini berasal dari Ek, sohib saya. Jaellaahh Ek, genit banget pake surat2an gini. Gak sabar saya buka sampul bergambar Candi Borobudur itu.
Part 1
Assalamualaikum sobat ,,, hehehe, kaget yak terima surat ney ,, sukur ,, sengaja pake surat biar romantis ,,, kayak zaman qt muda dulu ,,, :) cerita gw dikit dulu yuaa ,, gw cuma mw kasih tau klo gw udah keluar dari kantor gw ,,, horeeee ,, lega banget rasanya gak lihat lagi 'kebohongan2' dari nyonya yang satu itu ,,, gimanapun yang namanya orang gak jujur ada di mana2 ,,, gw tau itu ,,, tapi klo di ranah pendidikan ,,, ooo , tidak bisa ,,, hehehe #sulemodeon ,,, gitu aja sayyy ,,, ntar sambung lagi ,,,
Wassalamualaikum
NB : tunggu kabar berikutnya yak ,,, gw mw bikin surat versi sinetron Indonesia ,,, hahaha
Saya nyengir baca surat Ek. Dasarrr . Tapi tunggu juga deh lanjutannya ,,,
Part 1
Assalamualaikum sobat ,,, hehehe, kaget yak terima surat ney ,, sukur ,, sengaja pake surat biar romantis ,,, kayak zaman qt muda dulu ,,, :) cerita gw dikit dulu yuaa ,, gw cuma mw kasih tau klo gw udah keluar dari kantor gw ,,, horeeee ,, lega banget rasanya gak lihat lagi 'kebohongan2' dari nyonya yang satu itu ,,, gimanapun yang namanya orang gak jujur ada di mana2 ,,, gw tau itu ,,, tapi klo di ranah pendidikan ,,, ooo , tidak bisa ,,, hehehe #sulemodeon ,,, gitu aja sayyy ,,, ntar sambung lagi ,,,
Wassalamualaikum
NB : tunggu kabar berikutnya yak ,,, gw mw bikin surat versi sinetron Indonesia ,,, hahaha
Saya nyengir baca surat Ek. Dasarrr . Tapi tunggu juga deh lanjutannya ,,,
Langganan:
Komentar (Atom)